Timikabisnis – Puluhan peserta dari Papua dan Papua Barat dengan berbagai latar belakang profesi, belajar bersama secara sinkronus maupun asinkronus pada 7 hari pelatihan Virtual Active Citizens yang diselenggarakan oleh Bukuntukpapua bekerjasama dengan British Council pada tanggal 24 – 30 Maret 2021.
Melanjutkan pelatihan Virtual Active Citizens yang menghadirkan 25 peserta pada Februari lalu, pada pelatihan periode kedua ini, semakin banyak peserta yang terlibat.
Selain itu ikut hadir para fasilitator pembelajaran dari Aceh Farah Hanum, Makassar Andini, Kupang Dany Wetangterah dan Sorong Dayu Rifanto.
Dany Wetangterah, salah seorang fasilitator dari Kupang mengaku bahwa ia sangat senang bisa terhubung dengan jejaring yang baru.
“Jejaring warga aktif di Indonesia Timur semakin besar, hingga semoga bisa saling terhubung membangun ekosistem perubahan,” ujarnya.
Pelatihan tersebut diikuti para peserta dengan sangat antusias. Berikut beberapa ungkapan dari para peserta.
“Penyampaian materi dari fasilitator yang menarik, tidak menggurui, dan mencoba untuk menjangkau seluruh peserta,” terang Nur Hayyu, penggiat literasi di Sorong.
“Buat saya, pelatihan ini bagaikan makanan yang sehat, mengenyangkan. Ia bagai gado – gado. Makanan yang disajikan di kaki lima sampai hotel berbintang, membuatnya mudah, hanya perlu sabar soalnya bahannya banyak. Jadi kira-kira gambaran saya buat model pelatihan kali ini. Berangkat dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda, jumlah perserta yang banyak, bahkan fasilitator dari Aceh sampai Papua, membuat kegiatan ini kaya warna, kaya manfaat dan kaya semangat membangun Indonesiayang lebih baik. Sampai ketemu pada implementasi program ya” ujar Dian Wasaraka, Jayapura.
Ada juga Nova di Jayapura yang merasa jika ada satu kata yang harus disematkan pada pelatihan ini, kata tersebut adalah belajar, karena dalam pelatihan ini fasilitator membantu memfasilitasi peserta saling belajar dan itu membuatnya merasa semakin saya tahu banyak semakin saya banyak tahu bahwa saya tidak tahu banyak.
“Saya memilih kata belajar, karena banyak hal yang saya temukan dari pelatihan ini. Terutama bagaimana melakukan pemetaan di komunitas dampingan, baik itu masalah, resiko, dan keterlibatan banyak pihak. serta bagaimana meminimalisir resiko yang bersifat konflik dalam membangun komunitas,” tulis Risna dari Manokwari Selatan.
Perlu diketahui, pelatihan ini sendiri telah berlangsung 10 tahun di Indonesia dan baru pertama kali dilaksanakan di Papua Barat pada 2019.
Akibat kondisi pandemi Covid-19 membuat penyesuaian pada pelatihannya, dari yang awalnya tatap muka disesuaikan menjadi pelatihan daring.
Hal ini membuat jangkauan pesertanya menjadi lebih luas yakni di Papua dan Papua Barat. Total telah terjadi 4 kali pelatihan di Papua, dengan total peserta sebanyak kurang lebih 80 peserta dari berbagai daerah di Papua dan Papua Barat. (Sb)

