Gaji Kecil – Pengabdian Besar, Guru Honorer di Mimika ini Tak Pernah Menyerah

MIMIKA,(timikabisnis.com) – Momentum Hari Kartini menjadi pengingat akan semangat pengabdian dan ketulusan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh seorang guru honorer di SMA Sentra Pendidikan Mimika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, Anastasia, yang akrab disapa Ibu Guru Anas, justru memilih jalan yang tidak mudah. Ia tetap bertahan sebagai guru honorer, meski peluang untuk menempuh jalur yang lebih menjanjikan, termasuk mengikuti seleksi pegawai negeri, terbuka lebar.

Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Kecintaannya pada dunia pendidikan serta keinginan memberi dampak nyata bagi siswa Orang Asli Papua (OAP) menjadi landasan utama dalam pengabdiannya.

Bagi Anas, menjadi guru adalah tentang memberi, bukan sekadar menerima. Ia mengaku tidak menjadikan besaran honor sebagai tolok ukur dalam menjalani profesinya.

“Meskipun gajinya kecil, saya tidak melihat itu. Yang penting saya bisa membagikan ilmu yang sudah saya pelajari kepada mereka,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (21/4/2026).

Mengajar di Papua, menurutnya, menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan daerah lain. Tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, ia juga berperan dalam membentuk karakter serta menanamkan pemahaman kebangsaan kepada para siswa.

Ia mengungkapkan, sebagian siswa, khususnya yang berasal dari wilayah pegunungan, masih menghadapi keterbatasan dalam literasi dasar serta pemahaman identitas sebagai bagian dari Indonesia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh latar belakang daerah asal yang kerap dilanda konflik, sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan optimal.

“Bahkan ada siswa yang sudah di jenjang SMA, tetapi belum bisa membaca dan menulis dengan baik,” katanya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat mendampingi seorang siswi dari daerah pegunungan dengan kemampuan literasi yang sangat terbatas. Dengan pendekatan personal dan penuh kesabaran, Anas meluangkan waktu di luar jam sekolah untuk memberikan pendampingan secara bertahap.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Siswi tersebut mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan, menjadi salah satu capaian yang paling membahagiakan bagi Anas sebagai seorang pendidik.

“Kalau mereka bisa berkembang, itu sudah jadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” tuturnya.

Di balik segala keterbatasan, ia tetap percaya bahwa setiap usaha akan memberikan hasil. Baginya, pengabdian seorang guru tidak hanya diukur dari materi, tetapi dari dampak yang ditinggalkan bagi masa depan generasi muda.

Pada momentum Hari Kartini, Anas juga menyampaikan pesan kepada perempuan Indonesia untuk terus berjuang dan memberi makna dalam setiap pilihan hidup.

“Untuk perempuan di mana pun berada, tetap semangat menjalani pilihan hidup. Jika menjadi guru, mengajarlah dengan sepenuh hati, karena pasti ada kebahagiaan di ujung perjuangan,” ujarnya.(Liddya Bahy)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *