MIMIKA,(timikabisnis.com) – Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan sekaligus persiapan akreditasi tahun 2026, Rumah Sakit Waa Banti mulai mengimplementasikan konsep one stop service atau layanan terpadu.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Rizal Ubra, mengatakan bahwa salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah pengoperasian ruang operasi yang ditargetkan mulai berfungsi pada Juni 2026 mendatang.
Hal tersebut disampaikan Reynold Ubra kepada wartawan usai mengikuti kegiatan di Hotel Grand Tembaga, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, pengoperasian ruang operasi ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan rumah sakit menghadapi akreditasi, sekaligus meningkatkan kemandirian layanan kesehatan di Kabupaten Mimika.
“Dengan hadirnya layanan bedah terintegrasi, kami menargetkan penurunan angka rujukan keluar daerah sehingga pasien dapat memperoleh pelayanan yang cepat, tepat, dan menyeluruh di satu tempat. Seminimal mungkin kita kurangi jumlah rujukan,” ujar Reynold.
Ia menyebutkan, Ruang operasi yang disiapkan mengusung konsep layanan terpadu, termasuk dukungan unit transfusi darah yang berada dalam satu lokasi.
Dengan sistem ini, pasien tidak lagi harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lain untuk mendapatkan tindakan operasi maupun layanan penunjangnya.
Menurutnya,Langkah tersebut dinilai sangat strategis, khususnya bagi masyarakat di wilayah pesisir dan daerah terpencil yang selama ini kerap menghadapi kendala akses layanan kesehatan lanjutan.
Selain penguatan infrastruktur fisik, Kata Dia, Dinas Kesehatan Mimika juga mendorong transformasi digital melalui penerapan rekam medis elektronik yang terintegrasi di seluruh layanan kesehatan pada 2026.
Reynold mengungkapkan, pihaknya telah menugaskan pembentukan tim khusus untuk memastikan seluruh fasilitas kesehatan di bawah kewenangan kabupaten menggunakan sistem rekam medis elektronik.
Tak hanya itu, tim telemedicine berbasis rumah sakit dan tingkat kabupaten juga akan disiapkan guna membantu tenaga kesehatan di daerah terpencil dalam melakukan konsultasi medis tanpa harus selalu merujuk pasien secara fisik.
“Transformasi digital ini bertujuan meningkatkan efisiensi, akurasi data pasien, serta mempercepat proses pelayanan medis secara menyeluruh,” jelasnya.
Dengan dukungan teknologi komunikasi, proses konsultasi dan pengambilan keputusan medis diharapkan dapat dilakukan lebih responsif dan efektif.
Ia mengungkapkan, Untuk menjamin keberlanjutan operasional layanan, terutama di wilayah dengan pasokan listrik yang belum stabil, rumah sakit juga akan memanfaatkan energi terbarukan melalui penggunaan solar cell.
Pemanfaatan energi surya dinilai sebagai solusi strategis agar operasional layanan kesehatan dan jaringan internet tetap berjalan tanpa ketergantungan penuh pada pasokan listrik utama.
“Melalui berbagai langkah tersebut, RS Waa Banti diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan, memperkuat kemandirian layanan kesehatan daerah, serta sukses meraih akreditasi pada 2026 mendatang,” tutup Raynold.( Liddya Bahy)

