YOGYAKARTA, (timikabisnis.com) — Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Provinsi Papua Tengah, melaksanakan kunjungan kerja ke Balai Pendidikan dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),Kamis (23/10/2025).
Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda studi banding dalam rangka memperkuat kerja sama antara legislatif dan eksekutif untuk peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Mimika.
Kegiatan tersebut menjadi istimewa karena Komisi III melibatkan dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mitra, yakni Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika.
Kedua OPD ini merupakan mitra kerja strategis Komisi III DPRK Mimika dalam bidang pendidikan, kepemudaan, dan pengembangan kebudayaan.
*Rombongan Lengkap dan Sinergi Antara DPRK dan Pemerintah Daerah*
Rombongan Komisi III dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III, Herman Gafur, SE, didampingi Wakil Ketua Komisi, Adolf Omaleng, serta Sekretaris Komisi, Herman Tangke Pare, ST. Dan Aanggota Komisi III lainnya yaitu Benyamin Sarira, SP, Sasiel Abugau, Yan Peterson Laly, ST, Rampeani Rachman, S.Pd, Elias Mirip, SE, Dominggus Kapiyau, dan Federina Matirani, dan didampingi oleh Wakil Ketua I DPRK Mimika, Asri Akkas, S.Kom.

Sementara dari pihak eksekutif, Dinas Pendidikan Mimika diwakili oleh Kasubag Umum, Tetik Sumule, dan Kasie Kesiswaan, Meriana R. Para’pak, sedangkan Disparbudpora Mimika dihadiri langsung Plt Kepala Dinas, Elisabeth Cenawatin.
Rombongan diterima langsung oleh Kabid Pembinaan SMK DIY, Wiwik Indrayani, dan BPO Disdikpora DIY, Suratu, di ruang rapat Balai Pendidikan dan Olahraga DIY.
Kegiatan diawali dengan sambutan hangat dari pihak tuan rumah serta pemaparan mengenai sistem pendidikan dan kebijakan vokasi yang diterapkan di DIY.
Fokus Studi Banding: Sinergi Dunia Pendidikan dan Dunia Usaha
Ketua Komisi III, Herman Gafur, menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan luar biasa yang diberikan oleh jajaran Balai Pendidikan dan Olahraga DIY.
Menurutnya, kunjungan ini tidak hanya sekadar agenda seremonial, tetapi memiliki makna penting dalam upaya membangun sistem pendidikan yang berkualitas di Mimika.

“Kami datang untuk belajar, berbagi, dan menggali informasi tentang bagaimana DIY mampu membangun sistem pendidikan yang berbasis budaya dan kebutuhan dunia kerja. Kami ingin meniru hal-hal baik yang dapat kami terapkan di Mimika,” ujarnya.
Herman menjelaskan, Yogyakarta dipilih karena memiliki kesamaan dengan Papua dalam hal status khusus daerah. Jika Papua diatur melalui Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus), sedangkan Yogyakarta diatur melalui Undang-Undang Keistimewaan (UUK) atau Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keduanya, kata Herman, memiliki tujuan yang sama yaitu memberi ruang bagi daerah untuk berinovasi sesuai karakter dan nilai lokal.
“Kami ingin belajar banyak tentang pendekatan pendidikan di Yogyakarta. Masa depan daerah tergantung dari asetnya, dan aset paling berharga adalah pendidikan,” sambungnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I DPRK Mimika, Asri Akkas, menambahkan bahwa Yogyakarta dikenal luas sebagai kota pelajar dan menjadi pusat pendidikan nasional.
“Kami tahu Yogyakarta ini adalah kota pelajar, dan itu alasan utama kami memilih tempat ini. Kami ingin mempelajari pola pengembangan pendidikan yang sudah terbukti berhasil,” ujarnya.
Paparan Materi: Transformasi Pendidikan Vokasi dan Filosofi DIY
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh Kabid Pembinaan SMK DIY, Wiwik Indrayani, dengan tema Transformasi Pendidikan Vokasi melalui Optimalisasi Tata Kelola SMK dan Sinergitas Lintas Sektor untuk Menjawab Tantangan Dunia Kerja.
Dalam paparannya, Wiwik menjelaskan arah kebijakan Renstra Disdikpora DIY Tahun 2022–2027 yang berpijak pada filosofi luhur masyarakat Yogyakarta, yakni “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang bermakna menjaga dan memperindah dunia sebagai bentuk keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan budaya.
“Filosofi ini menjadi dasar kami dalam membangun pendidikan di Yogyakarta. Pendidikan bukan hanya soal akademik, tapi juga pembentukan karakter dan etika budaya,” jelasnya.
Ia memaparkan sembilan Strategi Nasional (StraNas) dan sembilan Strategi Daerah (StraDa) terkait penguatan pendidikan vokasi, di antaranya:
1. Membangun sistem informasi pasar kerja yang mutakhir dan komprehensif;
2. Memperkuat peran KADIN dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan pasar kerja;
3. Mewujudkan lembaga koordinasi vokasi yang efektif dan fleksibel;
4. Menguatkan sistem pendidikan menengah kejuruan berbasis kompetensi;
5. Mendorong sistem pendidikan tinggi vokasi sesuai standar nasional;
6. Mengembangkan pelatihan vokasi berbasis kompetensi;
7. Memperkuat peran BNSP dalam penjaminan mutu sertifikasi kompetensi;
8. Menyiapkan skema pendanaan berbasis kebutuhan;
9. Melakukan monitoring dan evaluasi revitalisasi pendidikan vokasi secara berkala.

Wiwik juga menjelaskan bahwa salah satu keunggulan DIY adalah pengelolaan SMK dengan sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), di mana sekolah diberi kewenangan mengelola keuangan dan hasil produksi sendiri.
Sistem ini mendorong kemandirian sekolah serta memperkuat keterlibatan industri dalam proses pembelajaran.
Pemaparan dari Dinas Pendidikan Mimika
Dalam sesi berikutnya, Perwakilan Dinas Pendidikan Mimika, turut memaparkan kondisi pendidikan di Kabupaten Mimika, termasuk tantangan pemerataan mutu pendidikan di wilayah pesisir dan pedalaman.
Dikatakan bahwa Pemkab Mimika terus berupaya memperluas akses pendidikan dan mendorong penguatan kualitas guru.
“Kami di Mimika terus melakukan pembenahan, baik dari sisi infrastruktur maupun peningkatan kapasitas guru. Salah satunya adalah memastikan anak-anak di wilayah terpencil tetap mendapat layanan pendidikan yang layak,” ujarnya.
Menanggapi paparan tersebut, Ketua Komisi III, Herman Gafur, menyampaikan apresiasi tinggi dan menilai hasil studi banding ini sangat relevan untuk diterapkan di Mimika.
“Kami mendapat banyak pelajaran berharga. DIY punya manajemen pendidikan yang terintegrasi dengan dunia kerja, dan itu bisa jadi model bagi kami di Mimika,” ucapnya.
Anggota Komisi III, Rampeani Rachman, menilai sistem BLUD pada SMK sangat efektif dalam menekan angka pengangguran.
“Sekolah bisa menghasilkan, berinovasi, dan langsung terhubung dengan dunia kerja. Ini harus jadi contoh bagi kami,” ujarnya.
Sementara Yan Peterson Laly menyoroti pentingnya mempersiapkan SDM sejak dini.
“Pendidikan vokasi adalah kunci menekan angka pengangguran. Kita harus mulai dari bangku SMK agar anak-anak kita siap kerja,”tegasnya.
Herman Tangke Pare, selaku Sekretaris Komisi III, menambahkan bahwa keterlibatan KADIN dalam pembinaan SMK adalah langkah yang patut dicontoh.
“Tenaga kerja disiapkan di sekolah, sedangkan lapangan kerja disediakan dunia industri. Ini hubungan yang harus diciptakan di Mimika,” jelasnya.
Selain itu, Herman juga menekankan pentingnya pendidikan muatan lokal dan kebudayaan daerah untuk membangun karakter generasi muda Mimika.
“Disdik dan Disparbudpora perlu bersinergi, agar pendidikan di Mimika tidak hanya akademik, tapi juga mencerminkan jati diri dan kearifan lokal,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Mimika, Elisabeth Cenawatin, yang hadir dalam kunjungan tersebut, menegaskan bahwa membangun pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Menurutnya, pendidikan, budaya, dan pengembangan SDM adalah satu kesatuan yang harus berjalan beriringan.
“Membangun pendidikan tentu tidak bisa hanya dilakukan oleh satu instansi. Diperlukan kolaborasi lintas sektor — antara eksekutif, legislatif dan lainnyanya,agar hasilnya benar-benar berdampak,” ujarnya.
*Penyerahan Cinderamata dan Kunjungan Lapangan ke SMK 6 Yogyakarta*
Sebagai penutup kegiatan, dilakukan penyerahan cinderamata oleh Wakil Ketua I DPRK Mimika, Asri Akkas, dan Ketua Komisi III, Herman Gafur, kepada Kabid Pembinaan SMK DIY, Wiwik Indrayani, dan BPO Disdikpora DIY, Suratu.
Momen tersebut dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dan sambutan dari pihak tuan rumah.
Setelah sesi resmi, rombongan Komisi III DPRK Mimika bersama dua OPD mitra melanjutkan kegiatan dengan kunjungan lapangan ke SMK Negeri 6 Yogyakarta, guna melihat secara langsung penerapan kelas industri dan teaching factory berbasis BLUD.
Di sekolah tersebut, rombongan menyaksikan bagaimana peserta didik dilatih menghasilkan produk nyata yang bernilai ekonomi, sekaligus membangun mental kewirausahaan.
“Kami melihat sendiri bagaimana tata kelola SMK di DIY berjalan mandiri dan profesional. Ini menjadi inspirasi besar bagi kami untuk memperkuat pendidikan vokasi di Mimika,” pungkas Herman Gafur. (Anis Batalotak)

