Kepala Distrik Hoya, Karel Kum/Foto : Yunita Simon
TIMIKA (Timikabisnis.com) – Pembangun Kabupaten Mimika yang begitu cepat khusunya di Kota Timika, tidak sepenuhnya dirasakan sebagian Distrik di Kabupaten Mimika. Pasalnya masih ada daerah pedalaman yang masih belum merasakan layaknya pembangunan yang merata diseluruh Daerah.
Distrik Hoya misalnya, transportasi yang masih sangat sulit dirasakan oleh penduduk bahkan para Aparatur dan Kepala kampung yang mengeluhkan betapa sulit dan mahalnya transportasi dari Distrik Hoya ke kota Timika dan sebaliknya.
Hal tersebut dikeluhkan langsung oleh Kepala Distrik Hoya, Karel Kum yang mengatakan, jika harus ke kota Timika bahkan sebaliknya dari Timika ke Distrik Hoya. Ia dan kepala-kepala kampung , menggunakan dana operasional kantor masing-masing dengan berpatungan membayar biaya transportasi pesawat kecil.
“Transportasi diatas terkendala, musti saya dengan kepala kampung sumbang-sumbang bayar coper. Satu kali terbang bayar 70 hingga 80 juta. Pulang balik 100 juta lebih”kata Karel.
Dalam kegiatan Musrenbang kemaren, Ia sudah memasukkan usulan pengadaan satu unit Coper untuk akomodasi transportasi dari Distrik ke Kota. Karena menurutnya transportasi merupakan kebutuhan mereka untuk melakukan aktivitas ke Kota jika ada keperluan.
“Salah satu sudah diusulkan, program subsidi asian one yang pemda beli mungkin bisa akses untuk distrik Hoya” ucapnya.
Selain alat transportasi Pembangunan Lapangan Terbang (Lapter) yang terkendala dari tahun 2018 sampai saat ini belum rampung , menjadi prioritas sekarang ini bagi Distrik Hoya. Kepala Distrik Hoya bersama Kepala-kepala Kampung telah bersepakat, dana dari operasional Distrik dan Kampung di alihkan.
“Sudah terbentuk badan, alat berat masih ada. Jadi kemaren kami sepakat untuk tahun ini harus masuk, tetapi ada beberapa kegiatan nasional yang menjadi pertimbangan akhirnya kepala kampung dengan saya, kami sepakat beberapa rencana kegiatan itu dialihkan ke lapangan terbang” katanya.
Untuk swadaya masyarakat akan di lanjutkan pada tahun ini dan tahun depan lagi dilanjutkan dengan musrenbang bertahap.
Sebelumnya lapter sudah berjalan dan di bangun dari anggaran Pemda, yang mana pembangunannya sudah mencapai 70 persen tetapi terkendala dari tahun 2018 hingga saat ini, yang hanya tinggal pemerataannya saja.
Selain lapter, saat ini Distrik Hoya juga membutuhkan jembatan sebanyak 12 yang merupakan penghubung antara kampung dengan kampung serta Kampung dengan distrik. Panjang masing-masing jembatan tersebut kira-kira 600 – 700 meter, yang biasa digunakan oleh masyarakat bahkan anak sekolah.
“Saat ini sudah ada 3 jembatan yang sudah dibangun oleh PT FI, dan 12 lagi yang masih kami butuhkan”harapnya.
Untuk saat ini Distrik Hoya menggunakan penerangan solar sell, baik di kantor-kantor maupun di puskesmas dan sekolah. Pendidikan dan kesehatan sudah memadai, hanya saja fasilitas rumah untuk guru dan gedung sekolah yang tidak layak menjadi perhatian kedepan. (Yun)
