MIMIKA,(timikabisnis.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika menggaungkan pengelolaan sampah bernilai ekonomi melalui kegiatan jalan santai bersih kampung di Distrik Mimika Timur, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di halaman Kantor Distrik Mimika Timur itu digelar dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diperingati setiap 5 Juni.
Masyarakat dari berbagai kampung, tenaga kesehatan, hingga pelajar terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Dengan mengusung tema “Be the Solution, Not the Pollution”, peserta berjalan sambil memungut sampah di sepanjang rute mulai dari Kampung Tipuka, Kampung Muare, Kampung Pigapu hingga berakhir di Kantor Distrik Mimika Timur.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Setda Mimika, Fransiskus Bogeyau mengatakan peringatan Hari Lingkungan Hidup harus menjadi momentum membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan fondasi utama bagi kehidupan masyarakat yang sejahtera, aman, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk memulai kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menjaga kebersihan sungai dan pesisir.
Menurutnya, generasi muda Mimika juga harus menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan hidup demi masa depan daerah yang lebih baik.
Sementara itu, Kepala Bidang Lingkungan Hidup DLH Mimika, Dovota Lesubun menjelaskan kegiatan tahun ini berbeda dari sebelumnya karena untuk pertama kali dilaksanakan di luar pusat kota sekaligus melibatkan program kios sampah.
Melalui program tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa sampah plastik, botol, dan kaleng tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat ditukar dengan kebutuhan pokok.
“Kami ingin menggaungkan kepada masyarakat bahwa sampah bukan sekadar kotoran yang harus dibuang, tetapi bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
DLH Mimika juga menerapkan konsep ramah lingkungan selama kegiatan berlangsung dengan tidak menyediakan air mineral kemasan. Sebagai gantinya, panitia menyediakan air isi ulang dan wadah yang dapat digunakan kembali.
Dovota mengaku senang melihat antusiasme masyarakat yang tinggi. Warga dari berbagai kampung membawa sampah botol dan kaleng yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar, termasuk dari saluran air dan area semak-semak.
“Got dan kali yang sebelumnya penuh sampah kini mulai bersih. Itu membuat kami senang karena tujuan kegiatan ini perlahan mulai tercapai,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang membudaya di tengah masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan demi Mimika yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya.(Liddya Bahy)

