67 Peternak, Satu Perjalanan: Yance Sani dan Harapan yang Tumbuh dari Timika

MIMIKA, (timikabisnis.com)- Senja mulai turun di Timika ketika kendaraan pengangkut pakan masih bergerak dari satu kandang ke kandang lainnya. Di dalam kandang, ribuan anak ayam broiler bergerak riuh, sementara para pekerja sibuk memastikan pakan, air, suhu, dan kondisi ternak tetap terjaga.

Di sudut lain, secangkir kopi Amungme mengepulkan aroma, menjadi jeda singkat di tengah aktivitas yang belum selesai.

Di antara kandang-kandang itu, Yance Sani, 28 tahun, berdiri memperhatikan satu per satu peternak yang kini menjadi bagian dari jaringan usaha yang dibangunnya.

Ada 67 peternak lokal di dalamnya. Namun bagi Yance, angka itu bukan sekadar hitungan bisnis. Di balik setiap kandang ada keluarga, biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, dan harapan agar usaha terus berjalan dari satu siklus panen ke siklus berikutnya.

Perjalanan Yance menuju titik itu tidak dimulai dari kandang ayam, melainkan dari Intan Jaya. Ketika berusia sekitar lima tahun, ia harus meninggalkan keluarganya untuk bersekolah di Nabire dan diasuh seorang pendeta yang mengelola sekolah berpola asrama. Masa kecilnya kemudian dihabiskan jauh dari orang tua.

” Saya dari umur lima tahun itu sudah merantau ke mana-mana. Ke Nabire, ke Jayapura. Tidak tinggal sama orang tua,” kenangnya.

Keadaan di Intan Jaya saat itu membuat keluarganya mengambil keputusan yang tidak mudah. Sang ibu kemudian menjalani kehidupan sederhana dengan berjualan di pasar Timika, sementara ayahnya meninggal ketika Yance masih duduk di sekolah dasar. Di Nabire, ia tumbuh sebagai anak yang tekun dan berprestasi, bahkan beberapa kali mengikuti olimpiade.

Namun prestasi akademik tidak serta-merta membuka jalan ke perguruan tinggi. Keterbatasan biaya membuatnya harus menunggu sekitar satu setengah tahun sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan.

” Jadi meskipun pintar, itu tidak menjamin kita lanjut kuliah. Nggak menjamin begitu,” ujarnya.

Ia kemudian merantau ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Pada 2015, Yance mulai menempuh pendidikan di bidang pertambangan di Surabaya. Namun di kota itu pula ketertarikannya terhadap dunia usaha tumbuh.

Tinggal bersama sebuah keluarga keturunan Tionghoa membuatnya melihat secara langsung bagaimana sebuah usaha dibangun, peluang dibaca, dan pelanggan dipertahankan.

” Di situ saya banyak belajar. Saya melihat bagaimana mereka menjalankan usaha, bagaimana melihat peluang dan bagaimana mempertahankan sebuah usaha,” katanya.

Untuk bertahan hidup sekaligus membiayai kuliah, Yance mengerjakan berbagai pekerjaan. Ia pernah menjahit karung, mengamen, menjadi tukang parkir hingga menjalankan usaha beras dengan modal sekitar Rp5 juta. Dari usaha beras itu kemudian dikirim ke Papua, sebelum berhenti setelah ia mengalami penipuan dari pelanggan. Kegagalan tersebut tidak membuat pengalaman itu menjadi sia-sia.

” Saya belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil kalau kita sedang berjuang untuk hidup,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan kuliah pada 2020, Yance kembali ke Papua dan menetap di Timika. Setahun kemudian ia bekerja di lingkungan PT Freeport Indonesia.

Bagi masyarakat Timika, nama PT Freeport Indonesia tentu bukan sesuatu yang asing. Perusahaan tambang yang telah beroperasi di Papua selama puluhan tahun itu telah menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Mimika.

Gaji, fasilitas, jenjang karier, dan nama besar perusahaan membuat pekerjaan di sana menjadi sesuatu yang didambakan banyak pencari kerja.

Namun hal ini berbeda dengan Yance. Hidupnya tidak hanya ingin sekedar bekerja. Leleki yang mendambakan kebebasan ini punya cita-cita untuk memberdayakan banyak orang.

Akhirnya setahun berselang, ia kemudian memilih berhenti menjadi karyawan. Namun karena punya keahlian di bidang pertambangan, pada 2024 ia kemudian dipanggil kembali oleh salah satu Kontraktor di PTFI sebagai Engineer Geotech.

Namun lagi- lagi Yance tidak bertahan lama sebagai karyawan. Pada 2025 ia memilih keluar dari PTFI yang bagi banyak orang adalah sebuah impian.

” Saya ingin berdiri di kaki sendiri. Saya tidak mau diatur orang lain,” ucapnya.

Keputusan tersebut membawa Yance ke dunia peternakan ayam broiler. Ia tidak ingin membangun usaha yang hanya berhenti pada aktivitas memelihara dan menjual ayam. Ia mencoba membangun mata rantai yang menghubungkan peternak, penyedia sarana produksi, tenaga ahli, hingga pasar.

Kini sekitar 67 peternak lokal berada dalam jaringan tersebut. Puluhan pekerja ikut terserap. Dalam ekosistem ini, PT Freeport Indonesia atau PTFI berperan menyediakan akses pasar dan pembinaan. Pemerintah daerah melalui dinas peternakan mendukung melalui Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan tenaga teknis, termasuk dokter hewan.

Sementara Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga memberikan pembinaan dan pendampingan, termasuk menyediakan kandang berkapasitas sekitar 5.000 hingga 7.000 ekor yang dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan calon peternak.

Di tengah mata rantai itu, Yance mengambil peran sebagai penghubung. Ia menyediakan pakan dan DOC, menampung hasil produksi peternak, membantu mencarikan pasar, menyediakan tenaga ahli, sekaligus ikut menjaga kualitas produksi.

” Saya ingin membangun sebuah sistem yang membuat semua pihak bisa tumbuh bersama,” tuturnya.

Bagi peternak seperti Samuel Awom, sistem tersebut membawa perubahan dalam menjalankan usaha. Sebelumnya, Samuel beternak secara mandiri dan harus menghadapi sendiri persoalan pakan maupun pemasaran. Kini, ia merasakan dukungan yang berbeda.

” Dengan adanya usaha ini sangat membantu. Kami punya pekerjaan dan ada peningkatan ekonomi,” kata Samuel.

Manfaatnya kemudian bergerak dari kandang ke rumah. Penghasilan dari peternakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar biaya pendidikan anak, bahkan membiayai sekolah anak di luar Papua. Karena itu, bagi Yance, memperluas jaringan peternak bukan hanya soal memperbesar skala bisnis. Ada kehidupan orang lain yang ikut bergantung pada keberlangsungan usaha tersebut.

Perjalanan itu sendiri tidak selalu mulus. Yance pernah mengalami kerugian, usaha yang berhenti, hingga keputusan yang harus dievaluasi. Namun dari berbagai kegagalan itu ia belajar bahwa uang bukan satu-satunya modal untuk mempertahankan bisnis.

” Bisnis itu tidak bangkit dari uang. Bisnis itu dibangkitkan dari pikiran yang tenang,” ucapnya singkat.

Pengalaman hidup tersebut juga mendorong Yance membuka kesempatan bagi generasi muda Papua. Saat ini ia membantu pendidikan 15 anak Papua dan memberikan ruang bagi pelajar bidang peternakan untuk belajar serta menjalani praktik langsung di tempat usahanya.

Baginya, pendidikan tidak cukup berhenti di ruang kelas. Anak muda perlu melihat bagaimana ternak dirawat, bagaimana usaha dikelola, bagaimana pasar bekerja, dan bagaimana persoalan diselesaikan.

Pandangan Yance terhadap usaha pun tidak berhenti pada ayam. Limbah peternakan, termasuk kotoran ayam, diolah melalui proses fermentasi untuk kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk. Dari sana muncul gagasan mengembangkan pertanian berbasis greenhouse. Bahkan sebuah greenhouse dibangun di lantai tiga gedung.

” Saya melihat limbah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kalau bisa diolah dan diberi nilai tambah, kenapa tidak dimanfaatkan?” ujarnya.

Bagi Yance, satu usaha dapat menjadi pintu bagi usaha lainnya.

” Kalau saya lihat kembali perjalanan saya, ternyata semua tempat yang pernah saya datangi memberikan pelajaran. Tidak ada yang benar-benar sia-sia,” katanya.

Intan Jaya memberinya akar. Nabire mengajarinya bertumbuh. Surabaya memperkenalkannya pada dunia usaha. Dunia kerja memberinya pengalaman. Dan Timika menjadi tempat ia mencoba membangun sesuatu bersama orang lain.

Senja semakin tua ketika aktivitas di kandang belum juga berhenti. Suara ayam masih terdengar dari dalam kandang. Kendaraan pengangkut pakan masih bergerak. Para pekerja masih menjalankan tugasnya, sementara para peternak mempersiapkan siklus berikutnya.

Ia tidak pernah membayangkan ketika meninggalkan Intan Jaya pada usia lima tahun bahwa puluhan tahun kemudian ia akan berdiri di Timika, menyaksikan puluhan peternak tumbuh dalam sebuah jaringan usaha yang dibangunnya.

Dari satu kandang menjadi dua, kemudian puluhan. Dari pengalaman hidup yang tidak selalu mudah menjadi kesempatan bagi orang lain. Dari seorang anak yang harus belajar bertahan jauh dari keluarga menjadi seorang anak muda yang kini berusaha menciptakan ruang agar orang lain dapat bertumbuh.

Di tempat itu, ayam memang tumbuh setiap hari. Tetapi bersama 67 peternak yang berjalan di dalam jaringan tersebut, ada sesuatu yang lain yang sedang tumbuh: harapan. ( Lyddia Bahy).

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *