Ketika Hati Anak Didengar, Dunia Mereka Tak Lagi Sendiri

MIMIKA,(timikabisnis.com) – Kasus bunuh diri anak belakangan ini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Satrio Rahargo, Manajer Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak di Wahana Visi Indonesia (WVI).

Satrio menekankan bahwa banyak anak di Indonesia tumbuh tanpa ruang aman untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Tekanan akademik, pergaulan, dan media sosial membuat anak sering memilih memendam perasaan karena takut dihakimi atau tidak dipahami orang tua dan lingkungan sekitar.

“Ketika anak berada dalam tekanan mental dan tidak memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan, kondisi tersebut dapat memicu isolasi dan pikiran negatif,” ujar Satrio kepada wartawan waktu lalu di Hotel Horison Diana Timika.

Ia menegaskan, kemampuan anak untuk berbicara dan didengarkan merupakan langkah awal yang krusial dalam menjaga kesehatan mental, sebelum membahas tindak lanjut atau solusi. Mengabaikan suara anak meningkatkan risiko rasa terasing, rendah diri, hingga isolasi mental.

Kurangnya komunikasi terbuka di keluarga menjadi salah satu faktor utama. Anak kerap merasa orang dewasa lebih fokus pada pencapaian dibanding kondisi emosional mereka. Akibatnya, persoalan kecil yang tidak tertangani bisa berkembang menjadi tekanan psikologis serius.

“Anak perlu ruang untuk bercerita. Namun, sering kali orang tua lelah atau sibuk sehingga menganggap apa yang disampaikan anak tidak terlalu penting,” tambah Satrio.

Hal-hal yang terlihat sepele bagi orang dewasa, seperti permintaan sederhana akan buku, pena, atau tas sekolah, bisa berdampak besar bagi anak. Perasaan berbeda atau kurang memiliki perlengkapan dapat memicu rasa terasing, meski guru atau teman tidak secara langsung menunjukkan diskriminasi.

Satrio menekankan pentingnya membangun komunikasi yang dekat antara anak dan orang tua. Peran sekolah dan pemerintah juga diperlukan untuk menyediakan ruang yang tidak semata-mata berfokus pada akademik, tetapi memberi kesempatan anak berbagi cerita dan pengalaman.

Keberadaan guru Bimbingan Konseling (BK) dan peningkatan kapasitas guru wali kelas dalam pendampingan psikologis menjadi langkah penting dalam pencegahan.

Dukungan sosial, seperti jaminan pendidikan dan kesehatan bagi anak dari keluarga kurang mampu, juga diperlukan agar faktor kemiskinan tidak memperparah tekanan yang dialami anak.

“Anak bukan hanya objek pendidikan, tetapi individu yang perlu didengar. Ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat siap merespons, risiko isolasi mental pada anak dapat dicegah,” pungkas Satrio.(Liddya Bahy)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *