Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun/Foto : husyen opa
TIMIKA, (timikabisnis.com) – Banyaknya keluhan dari warga RT 5 Kampung Nawaripi, Distrik Wania, kabupaten Mimika yang tidak mendapatkan jatah minyak tanah dan terpaksa harus antri di lokasi Pasar Murah Minyak Tanah (Mitan) di BLK Kampung Nawaripi mendapatkan tanggapan keras dari Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun.
Kepala Kampung Narawipi Norman Ditubun mengaku kecewa dengan penentuan lokasi Pasar Murah Mitan yang digelar di Halaman Sekolah SMA Negeri 1, yang diduga penyebab banyaknya warga di RT 5 Kampung Nawaripi dan diduga ada permainan dengan membatasi jatah warga.
“Ada warga dari RT 5 itu datang kesana tapi kata mereka disana terbatas, sehingga pintu pagar sekolah itu ditutup. Ini ada apa? dan dilihat dari sisi mana sehingga Disperindag harus laksanakan distribusi minyak tanah dilingkungan sekolah,” ungkap Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun saat ditemui di Balai latihan kerja Nawaripi, Kamis (16/12).
Menurut Norman, keluhan warga dari RT 5 ini menjadi pertanyaan besar. Pasalnya satu tangki mobil minyak tanah itu isinya 5000 liter dan seharusnya bisa mengakomodir semua warga, namun hal itu tidak sesuai harapan warga lainnya yang tinggal dekat lingkungan sekolah tersebut.
“Karena kalau kita lihat itu yang ada dalam lingkungan sekolah itu hanya berapa rumah, ditambah ada warga dari beberapa RT seperti RT 5, RT 7, RT 16 ,RT 8 dan RT 13. Tapi kenapa banyak warga yang tidak dapat. Ini pasti ada permainan. Bahkan ada laporan dari warga yang sempat mengabadikan gambar ada pengecer yang datang membeli Mitan lalu menjualnya ke warga lain dengan harga tinggi, mohon Disperindag menelusuri dugaan ini, bila perlu harus ada tindakan tegas, “keluh nya.
Ditambahkan Norman bahwa akibat dari hal tersebut sempat terjadi keributan antar warga yang ada di lokasi balai latihan kerja dengan warga yang seharusnya mendapat minyak tanah di lingkungan sekolah tersebut.
“Ini kami butuh perhatian dari anggota DPRD Mimika juga Kepala Disperindag dan bupati Mimika untuk menindak tegas bila benar ada permainan dilokasi penyaluran di SMA Negeri 1,” Keluh nya.
Sementara salah satu ibu rumah tangga dari RT 5 yang enggan menyebutkan nama membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada dugaan jatah yang diberikan tidak semua tersalurkan dan diperjual belikan kepada pengecer.
“Saya memang agak terlambat kesana sambil bawa jarigen kesana, tapi sampai disana katanya mereka sudah terbatas dan tidak bisa ambil lagi sehingga harus datang ke lokasi balai latihan kerja Nawaripi dalam untuk dapat minyak tanah,” tutur ibu rumah tangga tersebut.
Selfina Pappang, SE Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Mimika ketika dikonfirmasikan tentang hal ini, mengaku lokasi penentuan halaman sekolah SMA N 1 karena susah mendapatkan lokasi atau area umum.
“Saya tadi memantau dua lokasi penyaluran Pasar murah di Kampung Nawaripi dan sudah sesuai prosedurnya, kalaupun ada dugaan minyak tanah yang dijual warga ke pengecer itu diluar kemampuan dan pengawasan Disperindag. Memang tadi warga sangat banyak antre untuk mendapatkan Mitan sementara jatah penyaluran terbatas hanya 5.000 liter sehingga warga antre si lokasi BLK Kampung Nawaripi, “tegasnya. (opa)
