MIMIKA,(timikabisnis.com) – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Mimika kembali menggulirkan Program Family Farming sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah Kabupaten Mimika.
Program yang telah berjalan sejak 2024 tersebut kini memasuki tahun ketiga pelaksanaannya dengan menyasar 10 kampung yang memiliki anak terdampak stunting. Sosialisasi program dilaksanakan di Kantor Kampung Mawokau Jaya, Distrik Wania, Rabu (10/6/2026).
Melalui program ini, pemerintah menyediakan berbagai bantuan berupa bibit tanaman pangan bergizi dan bibit ikan yang dapat dibudidayakan masyarakat di pekarangan rumah. Bantuan yang diberikan meliputi bibit kelor, katuk, cabai, berbagai tanaman hortikultura, serta bibit ikan lele.
Kepala Bidang Ketersediaan, Kerawanan, dan Stok Pangan DKP Mimika, Beti Iriani, mengatakan seluruh kebutuhan program telah disiapkan pemerintah, mulai dari bibit, media tanam hingga sarana pendukung lainnya. Masyarakat hanya diminta menyediakan lahan pekarangan sebagai lokasi budidaya.
“Tujuan kami adalah meningkatkan ketahanan pangan keluarga, terutama bagi anak-anak yang terdampak stunting. Semua bantuan kami siapkan agar masyarakat bisa langsung memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk menanam dan membudidayakan pangan bergizi,” kata Beti.
Menurut dia, hasil budidaya yang diperoleh keluarga penerima manfaat tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga. Produk hasil panen nantinya dapat dipasarkan melalui Kios Tani yang dikelola DKP Mimika.
Program Family Farming tahun ini akan dilaksanakan di Kampung Mawokau Jaya, Karang Senang, SP3, Kampung Damai, Kampung Matoa, Wonosari Jaya, Sempan, Timika Indah, Poumako, dan Wania.
Sementara itu, Kepala Kampung Mawokau Jaya, Edyson Rafra, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia menilai Program Family Farming sejalan dengan upaya pemerintah kampung dalam menekan angka stunting dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
Di Kampung Mawokau Jaya, terdapat delapan keluarga OAP yang akan menerima bantuan melalui program ini. Mereka merupakan keluarga yang memiliki anak terdampak stunting berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi pemerintah.
Edyson menjelaskan pemerintah kampung selama ini terus mengalokasikan anggaran melalui dana desa untuk mendukung berbagai program penanganan stunting. Selain edukasi dan pendampingan keluarga, bantuan di sektor peternakan dan perikanan juga diberikan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data pemerintah kampung, angka stunting di Mawokau Jaya mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada 2020 tercatat sebanyak 221 anak mengalami stunting, maka pada 2025 jumlahnya berhasil ditekan hingga tersisa sekitar tiga hingga lima anak.
Meski demikian, pemerintah kampung tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap munculnya kasus baru, terutama pada keluarga muda yang belum aktif mengikuti kegiatan edukasi kesehatan dan gizi.
“Penanganan stunting membutuhkan keseriusan dan kerja bersama. Bukan hanya soal program, tetapi bagaimana pendampingan dan edukasi terus berjalan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Kami berharap Program Family Farming ini terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan keluarga penerima manfaat,” ujar Edyson.(Liddya Bahy)

