Merajut Kehidupan, Menciptakan Surga Biota: Inovasi Abu FABA di Laut Jayapura

JAYAPURA, (timikabisnis.com)– Di balik birunya perairan Pantai Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, sebuah langkah sederhana tengah membuka ruang bagi tumbuhnya kehidupan baru.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) berkolaborasi dengan komunitas EAB (Enak Apa Bilang) Outdoor untuk menghadirkan inovasi lingkungan yang memadukan pemanfaatan material sisa pembakaran dengan upaya pelestarian ekosistem laut.

Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) yang dihasilkan dari PLTU Holtekamp dimanfaatkan sebagai material pembentuk struktur habitat bawah laut, yang diharapkan dapat menjadi tempat berlindung sekaligus ruang tumbuh bagi beragam biota laut di kawasan tersebut.

Modul rumah ikan dibuat menggunakan campuran FABA dengan komposisi sekitar 30 hingga 35 persen, pasir, semen, serta bahan perekat khusus. Struktur beton tersebut dirancang memiliki sejumlah ruang yang dapat menjadi tempat berlindung ikan-ikan kecil dari predator sekaligus mendukung proses tumbuhnya organisme laut dan terumbu karang.

Penempatan modul dilakukan setelah material mencapai tingkat kekerasan yang dinilai memadai. Tim penyelam dari Komunitas EAB kemudian menurunkan modul ke dasar laut pada kedalaman sekitar 5 hingga 7 meter.

Lokasi penempatan dipilih pada area berpasir yang dinilai relatif aman dari jalur perlintasan kapal besar yang beraktivitas di sekitar kawasan PLTU.

Perwakilan Komunitas EAB Outdoor, Fandi Joyo, mengatakan proses pemasangan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi laut dan keselamatan penyelam. Sebanyak empat penyelam terlibat dalam proses penurunan modul secara bertahap.

” Setelah modul rumah ikan mengeras sempurna, empat penyelam dari Komunitas EAB menurunkannya satu per satu ke dasar laut berpasir di kedalaman 5 hingga 7 meter, tepat di area yang aman dari jalur perlintasan kapal besar pembongkar batu bara. Penyelaman dilakukan pada pagi hari untuk menghindari arus bawah laut yang kuat,” jelas Fandi, Sabtu (19/9/2026).

Keberadaan rumah ikan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan ruang hidup baru bagi biota laut, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat pesisir.

Dengan terbentuknya habitat ikan di kawasan yang lebih dekat dengan pantai, nelayan lokal diharapkan memiliki peluang mendapatkan hasil tangkapan tanpa harus selalu melakukan perjalanan jauh ke laut.

Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), yakni mengupayakan manfaat lingkungan sekaligus menciptakan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi program.

Untuk menjaga keberlanjutan program, Komunitas EAB menyiapkan pemantauan bawah laut secara berkala sebanyak dua kali setiap bulan. Pengawasan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan biota laut dan pertumbuhan karang pada modul yang telah ditempatkan.

Apabila pertumbuhan karang alami berjalan lambat, tim juga menyiapkan opsi transplantasi atau stek karang sebagai langkah tambahan untuk mempercepat pemulihan habitat.

Fandi berharap masyarakat ikut menjaga kawasan tersebut agar proses pembentukan ekosistem baru dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemasangan modul, tetapi juga pada kepedulian masyarakat untuk tidak merusak habitat yang sedang dibangun.

” Kami berharap inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat dengan tidak merusak ekosistem yang sedang dibangun. Kami ingin anak cucu kita kelak masih bisa melihat keindahan laut yang kita saksikan hari ini. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga alam,” tegasnya.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menilai pemanfaatan FABA melalui program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Pemanfaatan material sisa pembakaran batu bara itu diarahkan agar tidak berhenti sebagai limbah produksi, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari solusi pemulihan lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ke depan, lanjutnya, kawasan pesisir Holtekamp diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai wilayah aktivitas perikanan masyarakat, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan sarana edukasi lingkungan.

Melalui kolaborasi antara PLN, komunitas, penyelam, dan masyarakat pesisir, pemanfaatan FABA tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya membangun kembali habitat biota laut sekaligus membuka peluang manfaat ekonomi dan edukasi bagi masyarakat Jayapura. (Lyddia Bahy).

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *