MIMIKA,(timikabisnis.com) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika Daerah Pemilihan (Dapil) VI dari Partai Demokrat, Dessy Putrika Ross Rante, SE, melaksanakan reses Tahap II Tahun 2026 dengan mengunjungi tiga distrik di wilayah pesisir Mimika selama tiga hari berturut-turut.
Dari seluruh titik kunjungan, satu fakta kembali mengemuka, masyarakat masih bergulat dengan persoalan mendasar yang bertahun-tahun belum sepenuhnya terselesaikan, mulai dari krisis air bersih, transportasi, hingga kebutuhan pendidikan yang layak.
Rangkaian reses diawali pada Senin (13/7/2026) di Kampung Muare, Distrik Mimika Timur. Keesokan harinya, Selasa (14/7/2026), Dessy menyambangi masyarakat Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh. Perjalanan kemudian dilanjutkan pada Rabu (15/7/2026) di Kampung Mulia Kencana, Satuan Pemukiman (SP) 7, Distrik Iwaka.
Dalam setiap pertemuan, politisi muda Partai Demokrat itu mendengarkan sekaligus mencatat secara langsung setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat.
Menurutnya, persoalan yang muncul di tiga distrik tersebut hampir seragam, yakni kebutuhan air bersih, transportasi, infrastruktur, rumah layak huni, peningkatan layanan kesehatan, hingga pendidikan yang lebih baik.
“Yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat di wilayah Dapil VI adalah air bersih dan infrastruktur. Aspirasi ini bukan hal baru, tetapi terus disampaikan setiap kali saya melakukan reses,” ujar Dessy Putrika kepada timikabisnis.com melalui telepon seluler, Kamis (16/7/2026).
Lanjutnya,Persoalan paling mendesak ditemukan di Pulau Karaka. Hingga kini masyarakat belum memiliki akses air bersih yang memadai. Warga juga mengeluhkan minimnya fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), bantuan rumah layak huni, serta rehabilitasi rumah yang dinilai sudah tidak layak ditempati.
Menurut Dessy, penyediaan air bersih harus menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan kebutuhan mendasar masyarakat.
“Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Selama persoalan ini belum diselesaikan, maka masalah seperti kesehatan akan terus menghantui masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, kata dia, masyarakat juga mengusulkan pembangunan dan peningkatan berbagai fasilitas umum, seperti balai kampung, gereja, serta sarana pendukung lainnya.
Di sektor ekonomi, ia menjelaskan bahwa warga pesisir mengeluhkan terhentinya layanan transportasi laut dari Cargo Dock menuju Pasar Gorong-Gorong sejak pandemi Covid-19. Kondisi tersebut membuat para nelayan harus mengangkut hasil tangkapan melalui Pomako menggunakan perahu kecil dengan biaya yang lebih tinggi, sehingga harga jual hasil laut ikut menurun.
Dessy berharap Pemerintah Kabupaten Mimika bersama PT Freeport Indonesia dapat menghadirkan kembali dukungan transportasi bagi masyarakat pesisir sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
“Kalau akses transportasi kembali dibuka, nelayan akan lebih mudah memasarkan hasil tangkapannya. Pendapatan masyarakat meningkat dan roda ekonomi pesisir akan kembali bergerak,” katanya.
Dalam kunjungannya, Dessy juga menilai sejumlah kawasan permukiman warga sudah tidak lagi layak dihuni. Untuk itu, Ia mendorong adanya relokasi permukiman melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia dengan tetap mengedepankan hak-hak masyarakat.
Di bidang kesehatan, Dessy mengapresiasi tenaga kesehatan yang selama ini rutin memberikan pelayanan di Pulau Karaka. Namun, ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC). Warga yang mengalami batuk lebih dari dua minggu diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.
Sementara di sektor pendidikan, Dessy Putrika menilai perhatian terhadap anak-anak pesisir masih perlu ditingkatkan. Ia menemukan masih banyak anak yang memilih ikut orang tua melaut saat jam sekolah karena tidak ada yang menjaga mereka di rumah.
Menurutnya, salah satu solusi yang harus segera dihadirkan pemerintah adalah mengaktifkan kembali program makanan tambahan bagi anak-anak sekolah.
“Anak-anak tidak bisa belajar dengan baik ketika mereka lapar. Program makanan tambahan harus terus berjalan karena sangat membantu menjaga semangat belajar mereka. Masa depan anak-anak tidak boleh menunggu proses birokrasi,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan agar sekolah-sekolah di wilayah pesisir menerapkan pola *Full Day School* dari Senin hingga Jumat yang didukung penyediaan makanan bergizi pada pagi, siang, dan sore hari.
Menurutnya, selama berada di sekolah, anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga perlu diberi ruang untuk berolahraga dan bermain agar proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
Mengakhiri rangkaian resesnya, Dessy Putrika menegaskan seluruh aspirasi masyarakat akan diperjuangkan melalui lembaga legislatif agar menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, PT Freeport Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan.
“Masyarakat pesisir tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin memperoleh hak dasar sebagai warga negara, yakni air bersih, rumah yang layak, pelayanan kesehatan, pendidikan yang baik, dan akses transportasi yang memadai. Aspirasi ini akan terus saya kawal agar menjadi prioritas pembangunan,” tutup Dessy Putrika Ross Rante.(Anis Batalotak)

