Hari Kedua, Tim DHL Mimika Kunjungi TPA – BLE dan Perusahaan Pembuatan Maggot di Banyumas

Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob,S,Sos, MM bersama Asisten III Setda Mimika, Henriette Tandiyono,SE,MM, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan Maria Rettob, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mimika, Jefri Deda, Sekretaris Komisi C DPRD Mimika, Saleh Alhamid, dan Ketua Kadin Mimika Bram Raweyai dan UMKM bersama staff DLH Mimika saat berada di TPA-BLE Kecamatan Sokaharo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (9/5/2023)/Foto : husyen opa

BANYUMAS, (timikabisnis.com) – Memasuki hari kedua, Selasa (9/5/2023), Tim Pemerintah Kabupaten Mimika yang terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup, DPRD Mimika, Satpol PP, Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin) dan UMKM Mimika mengunjungi Tiga Lokasi yang berkaitan dengan pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Tiga lokasi yang di kunjungi Tim Pemkab Mimika yang dipimpin langsung oleh Plt Bupati Mimika, Johanes Rettob,S,Sos,MM, Asisten III Setda Mimika Bidang Administrasi Umum, Henriette Tandiyono,SE,MM, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan Maria Rettob, Sekretaris Komisi C DPRD Mimika, Saleh Alhamid, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika, Jefri Deda, Ketua Kadin Mimika, Bram Raweyai, para Kabid dan Kasubag serta Staff Dinas Lingkungan Hidup serta sejumlah UMKM Mimika, diantaranya TPS 3R Promian KSM Mugiresik di Kelurahan Katangpucung, Kecamatan Purwekerto Selatan Kabupaten Banyumas,  Tempat Pembuangan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA-BLE) dan PT Greenprosa Adikarai Nusa di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Banyumas , Jawa Tengah.

Dari tiga lokasi yang dikunjungi dihari kedua, lokasi TPA-BLE yang terletak di Kecamatan Sokaraja kabupaten Banyumas yang menjadi fokus dan mendapatkan banyak bagaimana keberhasilan kabupaten Banyumas dalam menjalankan program pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan edukasi, bahkan di TPA-BLE ini, rombongan Plt Bupati Mimika dan rombongan mendapatkan penjelasan secara detail proses pengolahan sampah , mulia dari sampah rumah tangga, yang dipanaskan, dikembangkannya produksi maggot hingga proses pembuatan paving block dari sisa olahan sampah rumah tangga hingga proses mencetak paving block yang siap dipasarkan.

Di TPA-BLE Sokaharjo ini, tim Pemkab Mimika mendapatkan penjelasan lengkap dari Kepala UPT TPST/TPA BLE Banyumas, Edi Nugroho dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Junaedi. Selain mendapatkan penjelasan terkait operasi TPA-BLE ini, rombongan juga menyusuri seluruh bagian dari proses Tempat Pembuangan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA-BLE).

Dari pantauan timikabisnis.com, Plt Bupati Mimika Jhon Rettob bersama rombongan sangat antusias dan bersemangat untuk mendapatkan penjelasan atas manfaat pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan ekonomi serta menghasilkan produk paving block yang siap dipasarkan untuk berbagai proyek dan program pembangunan di kabupaten Banyumas.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Junaedi saat berada diruangan Scada dan Kantor TPA-BLE Sokaharjo menjelaskan, bahwa TPA BLE merupakan tempat pengolahan akhir residu yang dikirimkan oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM) sebagai pengelola tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST).

Di TPA-BLE ini kata Junaedi selanjutnya dipilah antara sampah organik dan anorganik. Di TPA BLE juga ada lokasi budi daya magot yang menjadi solusi pengolahan sampah organik. Lalu, ada juga pabrik plastik. Di lokasi setempat plastik-plastik ada yang masuk proses pirolisis, namun ada pula diproses menjadi ref

“Di TPA BLE sebetulnya merupakan lokasi penampungan residu yang dihasilkan oleh TPST, meski ada TPST, namun sebagian masih ada residu. Sehingga residu masuk ke TPA BLE, nah Residu inilah yang kemudian diproses di TPA BLE, karena di TPST tidak mampu,”terang Junaedi.

Ditambahkan Kadis DLH Junaedi, kalah sampah anorganik bisa diproses menjadi RDF. Sebagian sampah plastik yang tidak masuk proses RDF, masuk mesin pirolisis, ada juga sampah plastik yang kemudian dapat diproses menjadi paving block (batako).

“Kalau sampah organik, menjadi pakan magot. Karena di sini juga ada budi daya maggot untuk mendekomposisi sampah. Sampah yang telah didekomposisi maggot, menjadi pupuk, namanya kasgot atau bekas maggot. Sampah di Banyumas tidak ada yang tersisa, karena semuanya dapat diolah. Sehingga, saat sekarang Banyumas sudah tidak lagi mempunyai landfill atau TPA secara terbuka,”katanya.

TPA BLE dikelola oleh unit pelaksana teknis (UPT) yang merupakan bagian langsung Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dengan dibangunnya TPA BLE maka tujuannya adalah memproses seluruh sampah atau residu, mengolah hasil sampah atau residu menjadi barang yang memiliki nilai tambah serta menghabiskan sampah dengan proses pirolisis. TPA BLE dibangun sejak tahun 2020 dengan alokasi pendanaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Di TPA BLE, ada sejumlah peralatan yang telah terpasang. Di antaranya adalah bag opener yakni mesin pemilah awal sampah utuh. Mesin ini menghasilkan sampah plastik kotor dan organik kotor secara terpisah. Kemudian ada preshredder atau mesin pencacah sampah dengan kapasitas terpasang 30 ton per jam. Hasilnya berupa cacahan sampah dengan ukuran kurang dari 20 cm. Kemudian ada tromol screen atau mesin ayakan sampah dengan kapasitas terpasang 20 ton per jam.

Peralatan lainnya adalah chopper dan separator, mesin ini merupakan pencacah dan pemilah dengan kapasitas terpasang 5 ton per jam. Hasilnya berupa pemilahan sampah organik dan anorganik.

Alat lainnya adalah pyrolisis atau mesin pemusnah sampah yang merupakan peralatan pembakar dengan menggunakan prinsip 3T yakni temperature, turbulence, time. Mesin tersebut telah mendapatkan rekomendasi dari KLHK dan telah lolos uji emisi furan dan dioxin. Pembakaran dilakukan pada suhu tinggi berkisar antara 700-850 derajat Celcius dan sebagai starternya menggunakan bahan bakar solar.

Plt Bupati Mimika, Johanes Rettob disela sela kunjungannya ditiga lokasi dalam kegiatan kunjungan hari kedua di Banyumas megaku mengaresiasi kabupaten Banyumas merupakan contoh yang sangat baik dalam menangani persoalan sampah, sehingga kita bisa mengadopsi cara pengolahan sampah seperti di Banyumas.

“Yang paling penting, di sini juga ada keterlibatan masyarakat, dimana a da 29 KSM yang melakukan pengelolaan TPST. Setelah kembali nanti coba kita duduk dengan seluruh komponen terkait termasuk Kadin dan UMKM untuk membahas ini lebih mendalam prinsip-prinsipnya dan akan kita terapkan bagaimana keberhasilan Banyumas dalam memanfaatkan sampah menjadi ekonomis yang bisa mensejahterakan masyarakat,”ungkap Plt Jhon Rettob.

Dikatakan Plt Bupati JR, bahwa Banyumas telah memberikan bukti bahwa sampah bisa ditangani, harusnya kita di Mimika juga bisa.

Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob,S,Sos, MM bersama Asisten III Setda Mimika, Henriette Tandiyono,SE,MM, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan Maria Rettob, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mimika, Jefri Deda, Sekretaris Komisi C DPRD Mimika, Saleh Alhamid, dan Ketua Kadin Mimika Bram Raweyai dan UMKM bersama staff DLH Mimika saat berada di TPS 3R Proliman KSM Mugi Resik, Kelurahan Karangpucung Kecamatan Purwekerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (9/5/2023)/Foto : husyen opa

Sementara Ketua Kadin Kabupaten Mimika, Abraham Rawewayi menyampaikan terima kasih kepada Plt Bupati Mimika Johannes Rettob yang telah mensupport kegiatan Sinkronisasi dan Koordinasi soal penanganan sampah di Banyumas, dan berharap keberhasilan Banyumas dalam menangani nol sampah ini perlu kita dukung dan support.

“Ini kegiatan yang sangat positif dan dapat bermanfaat dalam menangani persoalan sampah yang berbasis ekonomi, karena itu setelah balik ke Timika kita secara bersama sama dengan melibatkan semua unsur untuk mengimplementasikan ilmu yang kita dapat bersama di Banyumas,”aku Bram Raweyai.

Sementara Sekretaris Komisi C DPRD Mimika, Saleh Alhamid mengatakan banyak hal positif yang didapat selama kegiatan di Banyumas tentang pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan edukasi.

“Banyumas dengan jumlah penduduk mencapai hampir 2 juta jiwa dengan APBD hanya Rp 3 Trilyun lebih dengan menghasilkan sampah 480 ton perhari bisa sukses dilaksanakan dan hingga saat ini nol sampah, lalu kenapa tidak untuk Mimika denan APBD mencapai Rp 5 trilyun lebih. Semoga ilmu dan pelajaran yang kita dapatkan di Banyumas benar benar dapat kita jalankan di kabupaten Mimika,”tegas Saleh Alhamid.

Saat berada di PT Greenprosa Adikarai Nusa di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Banyumas , Jawa Tengah rombongan DHL Mimika melihat secara langsung bagaimana proses budi daya Manggot mudah dan murah dan cara pemeliharaan lalat BSF, serta produk produk manggot untuk berbagai bahan dan pakan ternak dan usaa perikanan lainnya. (*opa)

Administrator Timika Bisnis