MIMIKA,(timikabisnis.com) – Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Mariunus Tandiseno, menilai pengembangan industri pakan ternak berbasis bahan baku lokal dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus meringankan beban para peternak di Kabupaten Mimika.
Menurutnya, peningkatan PAD tidak hanya menjadi tanggung jawab Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), tetapi membutuhkan peran aktif seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing.
Hal itu disampaikan Mariunus Tandiseno usai menghadiri forum diskusi bertajuk Bapenda dari Masa ke Masa pada Jumat (31/7/2026).
Ia menegaskan, setiap OPD perlu menghadirkan inovasi yang mampu menciptakan sumber-sumber pendapatan baru sehingga pembangunan daerah dapat ditopang oleh kemampuan fiskal yang semakin kuat.
“Yang terpenting adalah mencari terobosan agar kemampuan pendapatan daerah dapat mengimbangi besarnya belanja yang telah direncanakan. Setiap OPD harus mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk memberikan kontribusi terhadap PAD, bukan hanya berfokus pada penggunaan anggaran. Semua itu membutuhkan sinergi dan kerja sama yang baik antar-OPD,” ujar Mariunus.
Selain mendorong optimalisasi potensi di setiap OPD, kata dia, Komisi II DPRK Mimika juga melihat sektor peternakan memiliki prospek besar untuk dikembangkan. Salah satu gagasan yang didorong adalah pembangunan industri pakan ternak dengan memanfaatkan bahan baku lokal seperti ubi dan komoditas pertanian lainnya.
Menurut Mariunus, selama ini tingginya harga pakan ternak di Mimika menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi para peternak. Harga pakan yang mencapai sekitar Rp600 ribu per sak dinilai berdampak pada tingginya biaya produksi dan berpengaruh terhadap perkembangan usaha peternakan.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat mendorong hadirnya industri pakan ternak lokal agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi.
Selain menekan biaya produksi, langkah tersebut juga diyakini mampu menciptakan nilai tambah bagi komoditas lokal, membuka peluang usaha baru, menyerap tenaga kerja, serta meningkatkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah.
“Harga pakan di Mimika masih sangat tinggi. Per sak bisa mencapai Rp600 ribu. Karena itu, produksi pakan sebaiknya memanfaatkan bahan baku lokal agar lebih efisien, membantu peternak, dan memberi manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah,” tegasnya.
Kendati demikian, Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, OPD terkait, pelaku usaha, dan masyarakat dapat mempercepat terwujudnya industri pakan ternak lokal sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi dan memperkuat fondasi pembangunan daerah di Kabupaten Mimika.(Liddya Bahy)

