Sikapi Konflik Kapiraya, Keuskupan Timika Sampaikan Sejumlah Poin Ini

TIMIKA,(timikabisnis.com)– Keuskupan Timika menyampaikan keprihatinan mendalam atas konflik antarwarga yang terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, khususnya antara masyarakat Suku Kamoro di Distrik Mimika Barat Tengah–Kapiraya, Kabupaten Mimika, dan masyarakat Suku Mee dari Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.

Keprihatinan tersebut disampaikan melalui seruan pastoral dalam jumpa pers yang digelar di Kantor Keuskupan Timika, Jalan Cendrawasih SP 2, Kamis (5/3/2025).

Seruan tersebut dibacakan oleh Sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika, Rudolf Kambayong, didampingi Ketua SKP Saul Wanimbo serta Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA.

Dalam pernyataannya, Gereja Katolik menyoroti konflik yang dipicu oleh aktivitas pertambangan masyarakat di Kampung Wakia dan sekitarnya, termasuk Kampung Kapiraya, serta persoalan batas wilayah adat maupun batas administrasi kabupaten.

Menurut SKP Keuskupan Timika, wilayah pesisir Mimika selama ini dikenal sebagai tempat yang tenang dan menjadi ruang hidup bersama bagi masyarakat yang telah lama hidup berdampingan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, situasi tersebut berubah akibat meningkatnya aktivitas pertambangan lokal dan munculnya sengketa batas wilayah yang memicu ketegangan antarwarga.

Konflik yang terjadi bahkan semakin memprihatinkan karena selain menggunakan alat atau senjata tradisional, sebagian warga juga dilaporkan menggunakan senjata modern seperti senapan angin yang dikenal dengan sebutan “senjata tabung”.

Akibat konflik tersebut, sejumlah warga dilaporkan mengalami luka-luka dan terjadi kerusakan serta kerugian material di beberapa kampung. Selain itu, banyak warga terpaksa meninggalkan rumah, dusun, dan kampung mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam seruan tersebut, Gereja Katolik juga mengingatkan pentingnya menjaga bumi sebagai “rumah bersama” sebagaimana ditegaskan dalam ajaran sosial Gereja melalui ensiklik Laudato Si. Ajaran tersebut menyerukan pertobatan ekologis, keadilan sosial, serta tanggung jawab bersama untuk merawat lingkungan hidup demi generasi sekarang dan yang akan datang.

Gereja Katolik Keuskupan Timika juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya umat beriman yang tengah menjalani masa Pra-Paskah, untuk berdoa memohon bimbingan Tuhan agar hati dan pikiran dibersihkan sehingga mampu menata langkah menuju perdamaian.

“Semua orang dipanggil untuk mencintai, merawat dan melindungi bumi sebagai rumah bersama demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” demikian disampaikan dalam seruan tersebut.

Menyikapi situasi konflik di Kapiraya dan sekitarnya, Keuskupan Timika menyampaikan sejumlah poin seruan kepada berbagai pihak.

Pertama, kepada Pemerintah Pusat agar segera mengambil langkah cepat membantu warga pengungsi terdampak konflik, terutama dalam penyediaan bahan makanan dan pelayanan kesehatan.

Kedua, kepada semua perusahaan maupun pihak yang beraktivitas terkait pertambangan di sekitar wilayah konflik agar menghentikan sementara operasinya hingga konflik antarwarga memperoleh kejelasan hukum serta tercapai kesepakatan damai antara pihak-pihak yang bersengketa.

Ketiga, kepada Kepolisian Republik Indonesia agar menjalankan tugas pengamanan secara profesional, netral, dan proporsional demi mencegah konflik meluas, melindungi warga sipil, serta menjamin rasa aman bagi semua pihak.

Keempat, kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri agar meninjau kembali Surat Keputusan terkait tapal batas administrasi kabupaten, dan jika perlu mencabutnya.

Kelima, kepada seluruh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, serta umat beriman agar menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh cerita maupun informasi yang belum tentu benar.

Keenam, kepada semua pihak yang berkemauan baik, baik di wilayah konflik, instansi terkait di Provinsi Papua Tengah, di Tanah Papua maupun di tingkat nasional, agar bersama-sama mendukung tim harmonisasi dalam upaya-upaya perdamaian yang sedang berjalan saat ini.

Menutup seruan tersebut, Gereja Katolik Keuskupan Timika menegaskan komitmennya untuk terus mendoakan terciptanya kedamaian di Tanah Papua.

“Kami Gereja Katolik Keuskupan Timika berdoa memohon bantuan Tuhan agar kita semua dikuatkan untuk berjalan bersama mencari cara-cara terbaik dalam menyelesaikan persoalan yang ada, sehingga kita tetap hidup sebagai manusia dan orang-orang percaya, dan kiranya Tanah Papua menjadi berkat bagi siapa saja,”tutupnya. (Liddya Bahy)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *