Timika (timikabisnis) – Gereja Katolik Keuskupan Timika, Suku Mimika Wee dan Anak Cucu Perintis (ACP) meminta maaf kepada seluruh warga Mimika dari berbagai suku atas kesalahan masa lalu yang dilakukan gereja, suku Mimika Wee dan ACP Mimika.
Sebagai simbol permintaan maaf (rekonsiliasi), sebuah salib raksasa dengan ukiran khas suku Kamoro berdiri di pinggir dermaga Atapo menghadap muara Kokonao.
Acara sakral itu dihadiri Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, Ketua Lemasko, Gerry Okoware, Ketua Aliansi Pemuda Kamoro DR Leonard Tumuka, Ketua ACP Petrus Renwarin, serta ribuan ribuan masyarakat Mimika Wee dari 84 kampung mulai dari Nakai hingga Potowayburu.
Misa rekonsiliasi dimulai pukul 08.00 WIT, Minggu (24/4).
Rekonsiliasi diawali dengan pemasangan api di dua tungku oleh masyarakat Kiyura, kemudian diberkati Pastor Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo Pr sekaligus memberkati salib Yesus.
Setelahnya, seorang kepala suku mulai memanggil semua arwah leluhur termasuk semua yang dibawa keluar dari Mimika, dan membahasakan secara adat bahwa upacara pembakaran dosa dan semua kesalahan masa lalu akan dimulai.
Saat kepala suku memanggil leluhur, diiringi dengan nyanyian ratapan atau penyesalan dari masyarakat.
Dua tungku tersebut dipisahkan, tungku yang sebelah kiri untuk para warga kombas, warga kampung, warga suku Mimika, petua adat, perwakilan pemerintah, yayasan dan anak cucu perintis (ACP) membakar daftar kesalahan dan kelalaian yang dibuat dimasa lampau yang sudah ditulis di dalam kertas.
Sebaliknya tungku sebelah kiri untuk membakar harapan-harapan dan niat masyarakat kedepan usai rekonsiliasi.
Usai membakar penyesalan dan harapan mereka, selanjutnya masuk dalam upacara pelepasan, dimana semua kepala suku mengambil abu hasil pembakaran dosa dan kesalahan dan menempatkan di wadah yang sudah disediakan.
Secara adat para kepala suku perwakilan kampung membawa abu itu ke sungai dengan iringan tifa dan tarian juga bahasa adat, lalu membuang semua abu penyesalan agar terbawa hanyut oleh air sungai yang mengalir.
Sesudah itu semua kepala suku kembali ke tempat pembakaran dan mengambil abu hasil pembakaran kebaikan dan niat, ditempatkan di wadah yang sudah disediakan, membahasakan secara adat dan diserahkan kepada Pater Marthen untuk selanjutnya akan diberkati bersama dengan air.
Air dan hasil pembakaran niat kemudian dicampur dengan Garam yang sudah diberkati akan diusapkan kepada seluruh umat yang hadir.
Tepat pukul 13.00 masyarakat Mimika mulai membuat ritual adat untuk memasang Salib Yesus menambah sakral upacara rekonsiliasi Mimika Wee yang bertema “Menemukan Sejarah Keselamatan Dan Menatap Masa Depan”. (tim)

