MIMIKA,(timikabisnis.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggencarkan deteksi dini dan pengendalian penyakit menular, khususnya malaria dan tuberkulosis (TBC), hingga menargetkan dua juta tes malaria sepanjang 2026.
Kepala Dinkes Mimika, Reynold Rizal Ubra, mengatakan pengendalian difokuskan pada penanganan faktor risiko serta peningkatan layanan kesehatan dasar hingga ke tingkat kampung.
“Fokus kami tahun ini adalah pengendalian faktor risiko malaria. Tempat-tempat perindukan nyamuk kami tangani dengan melibatkan masyarakat secara langsung,” ujar Reynold saat ditemui di Kantor BPKAD Mimika, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, strategi tersebut dilakukan melalui penguatan fungsi Puskesmas Pembantu (Pustu) dan kolaborasi aktif dengan kader kesehatan di kampung-kampung.
“Kami meningkatkan fungsi Pustu, kemudian berkolaborasi dan bermitra dengan kader kesehatan di sana. Itu menjadi keterpaduan yang kami bangun,” katanya.
Selain pengendalian vektor, Dinkes Mimika menargetkan dua juta tes malaria guna mempercepat deteksi dan penanganan kasus di masyarakat.
“Target kami dua juta tes tahun ini,” tegasnya.
Di sisi lain, TBC juga menjadi perhatian serius Dinkes Mimika karena masih menjadi indikator penting dalam pembangunan kesehatan daerah. Tahun ini, target pemeriksaan TBC ditingkatkan tiga kali lipat menjadi sekitar 50 ribu pemeriksaan.Dari 15 ribu pemeriksaan sebelumnya, ditemukan sekitar dua ribu kasus TBC.
“Karena dari 15 ribu pemeriksaan, kami mendapat sekitar dua ribu kasus dan ini menjadi beban,” ungkap Reynold.
Untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, secara nasional capaian minimal ditargetkan 95 persen.
Sementara di Mimika, target tahun 2025 ditetapkan sebesar 78 persen, dengan capaian saat ini berada di angka 76,6 persen.
Guna mempercepat diagnosis, kini pemeriksaan dahak (sputum) TBC sudah dapat dilakukan di tingkat kampung tanpa harus dikirim ke luar daerah.
“Sputum TBC tidak kita kirim lagi ke kota. Kita eksekusi di kampung-kampung, petugas puskesmas langsung bisa periksa,” ujarnya.
Selain pengobatan, terapi pencegahan TBC juga menjadi prioritas, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
“Untuk meningkatkan terapi pencegahan, khusus penduduk kurang dari 15 tahun yang tinggal bersama pasien TBC, itu menjadi salah satu program prioritas,” tuturnya.
Dinkes Mimika optimistis, melalui deteksi dini yang masif, penguatan layanan hingga tingkat kampung, serta keterlibatan masyarakat, angka kasus malaria dan TBC di daerah ini dapat ditekan secara bertahap.(Liddya Bahy)

