Tim Perlu Sampaikan Progres Perkembangan Rehab Fasilitas Umum di Banti

Timika (timikabisnis) – DPRD Mimika meminta tim yang dikoordinir Asisten Bidang Pemerintahan dan perundangan-undangan Setda Mimika, Yulianus Sasarari untuk melaporkan progress perkembangan pekerjaan rehab perumahan dan fasilitas umum yang ada di Kampung Banti, Distrik Tembagapura.

Ini penting, supaya dewan dapat mengetahui perkembangan pekerjaan yang dilakukan Manajemen PTFI. Kampung Banti masuk dalam area konsesi PT Freeport Indonesia (PTFI) sehingga mereka berkewajiban untuk membangun kampung Banti dan Opitawak.

Anggota DPRD Mimika, Aloisius Paerong kepada wartawan di kantor DPRD Mimika, Rabu (14/1/2021) mengatakan Tim harus menyampaikan hasil kerja itu penting, supaya masyarakat dapat mengetahui pekerjaan yang sudah dikerjakan.

Setelah Tim menyampaikan hasil kerjanya, baru DPRD bersama Forkopimda dan tim menjadwalkan untuk melakukan monitoring lagi ke Banti dan Opitawak untuk melihat dari dekat pekerjaan rehab perumahan, gereja, sekolah, puskesmas atau rumah sakit sudah sampai sejauh mana. Saat ini memang desakan dari masyarakat terus meneruskan mereka lakukan agar Pemkab, PTFI segera memfasilitasi mereka kembali ke Banti-Opitawak. “

Memang kita tahu bersama akses ke wilayah Tembagapura, Banti-opitawak satu-satunya melalui jalan dan kendaraan perusahaan. Maka, untuk bisa naik keatas Pemkab, DPRD, Manajemen PTFI harus duduk bersama untuk menentukan dan menyepakati beberpa hal termasuk memulangkan mereka kembali ke Banti dan Opitawak. Pemkab tidak punya akses keatas, yang miliki itu hanya PTFI maka maka PTFI bekerjasama dengan tim untuk melaporkan progress perkembangan pekerjaan rehab sehingga kita bisa jadwalkan bersama kapan bisa naik dan kapan masyarakat bisa kembali kampung halaman mereka,” kata Aloisius.

Anggota DPRD Mimika dari Dapil 5 Partai Perindo ini, masyarakat Banti dan Opitawak sejak beberapa bulan turun Timika, mereka sudah datang minta Anggota dewan untuk bicara dengan pemeritnah agar mereka segera kembalikan mereka ke Banti. Bagi mereka hidup di Timika membuat stress, karena mau kemana-mana harus pakai uang. Masyarakat tidak punya lahan mau kerja kebun, dan mereka tidak punya rumah, selama di timika mereka numpang di rumah keluarga, ada yang lain kos-kosan 3-4 keluarga. Ada warga Banti sudah tidak punya uang tidak bisa bayar kos, kadang tuan kos kasi mati meteran listrik, kasih mati air, kasihan juga mereka.

“ Dengan alasan itu, mereka datang menemui kami dewan dari Dapil 5 untuk menyampaikan keluhan itu. Mereka minta agar segera kembalikan mereka keatas ditanah kelahiran dan warisan leluhur mereka sejak turun temurun. Diatas mereka tidak butuh uang banyak, kalau makanan mereka bisa berkebun tanam keladi, petatas, pisang, sayur-sayuran. Kalau daging mereka bisa pelihahra babi, ayam dan hewan lainya yang membuat hidup mereka tidak susah seperti di Timika yang kurang lebih hampir satu tahun ini,” terang Aloisius.

Dia menjelasakan jika mereka tuntut agar mereka segera kembali ke Banti-Opitawak wajar dan pemkab dan PTFI harus fasilitasi. Soal perbaikkan rumah dan fasilitas jika sudah dilakukan PTFI itu bagian yang harus mereka lakukan. Banti-Opitawak adalah masuk area Konsesi Pertambangan dan akibat dari segala macam kebijakan termasuk akibat warga mengungsi karena kontak tembak KKB dan TNI/Polri yang membuat mereka tidak aman. Setelah aman PTFI harus mengembalikan mereka dengan konsekwensi apapun.

Anggota DPRD dari Partai PKB, Matius Uwe Yanengga menuturkan warga sudah menyatakaningin kembali ke kampung halaman mereka harus segera kembaikan. Mereka tidak butuh rehab rumah, atau segala macam, yang mereka minta kembalikan mereka ke Banti-Opitawak supaya mereka kembali hidup di tanah air mereka. Kalau mereka bilang, di kota Timika hidup butuh uang banyak, berarti mereka tidak sanggup dan pulangkan mereka, karena disana mereka bisa berkebun dan pelihara ternak.

“ Saya mau minta kita dalam rapat jangan terlalu banyak masukan, pertimbangan, karena mereka minta segera kembalikan ke kampung halamannya. Mereka sudah terbiasa hidup di alam warisan leluhur mereka jadi kita jangan terlalu berbelit-belit buat mereka tambah susah, stress, bahkan sampai ada korban jiwa,” terang Yanengga. (tim)

Administrator Timika Bisnis