BMKG Jelaskan Penyebab Hujan di Tengah Pengaruh El Nino

MIMIKA,(timikabisnis.com) – Hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Mimika dalam beberapa hari terakhir, meski fenomena El Nino masih memberikan pengaruh cukup kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia.

Kondisi tersebut terutama dirasakan di kawasan pesisir dan Kota Timika. Padahal, secara umum, fenomena El Nino menyebabkan penurunan curah hujan karena berkurangnya pembentukan awan hujan.

Forecaster BMKG Mozes Kilangin Mimika, Dwi Christanto, menjelaskan bahwa hujan yang terjadi saat ini diduga berkaitan dengan dinamika atmosfer regional dan keberadaan sistem siklon tropis di kawasan Pasifik, tepatnya di sebelah timur Filipina.

Menurut Dwi, dalam kondisi El Nino, massa udara dari Australia biasanya bergerak menuju wilayah Pasifik sehingga pembentukan awan hujan di Mimika menjadi lebih terbatas. Namun, pola pergerakan atmosfer tersebut saat ini mengalami gangguan akibat pengaruh sistem siklon tropis.

“Awan hujannya dari arah Papua Selatan bergerak ke Mimika. Ketarik karena adanya tropical cyclone yang dicurigai,” ujar Dwi saat diwawancarai, Jumat (25/9/2026).

Dwi menerangkan bahwa suhu permukaan laut di sekitar Mimika saat ini relatif lebih dingin. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan awan hujan secara lokal tidak terlalu aktif.

Sebaliknya, perairan di sekitar Australia relatif lebih hangat sehingga pembentukan awan berlangsung lebih intensif.

Awan yang terbentuk di wilayah Australia kemudian bergerak menuju Papua bagian selatan dan melewati wilayah Mimika mengikuti pola angin yang dipengaruhi oleh sistem siklon tropis tersebut.

Kata Dia,BMKG memperkirakan pengaruh sistem tersebut masih dapat memicu hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah Mimika hingga Sabtu (26/9/2026). Dampak yang dirasakan di Mimika sejauh ini lebih dominan berupa peningkatan curah hujan. Meski demikian, secara umum, sistem siklon tropis juga dapat memicu angin dengan kecepatan lebih tinggi.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di wilayah pegunungan Mimika. Kawasan tersebut dilaporkan telah mengalami kekeringan selama hampir enam bulan dan tidak banyak mendapatkan manfaat dari kondisi atmosfer yang memicu hujan di wilayah pesisir.

Dwi mengatakan karakteristik atmosfer serta ketersediaan uap air di kawasan pegunungan berbeda dengan wilayah pesisir. Pengaruh sistem siklon tropis yang saat ini memicu hujan di wilayah pesisir juga dinilai tidak terlalu signifikan terhadap kawasan pegunungan.

“Wilayah pegunungan cenderung dingin tetapi kering. Apalagi El Nino masih kuat, hanya berpotensi hujan beku tetapi tidak terjadi hujan,” jelasnya.

BMKG memperkirakan kata Dwi, kekeringan di wilayah pegunungan masih berpotensi berlanjut hingga fenomena El Nino berakhir, yang diperkirakan terjadi pada awal 2027.

Untuk wilayah pesisir dan Kota Timika, peluang hujan masih relatif lebih tinggi selama pengaruh sistem siklon tropis tersebut berlangsung.

Setelah pengaruhnya berakhir sekitar 26 September, kondisi cuaca diperkirakan kembali menunjukkan pola kemarau yang dipengaruhi El Nino.

Dengan demikian, kata Dwi,hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak serta-merta menunjukkan bahwa pengaruh El Nino telah berakhir. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan dinamika atmosfer regional yang sementara waktu memengaruhi pola pergerakan awan dan uap air menuju wilayah Mimika.(Liddya Bahy)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *