Tekan Kasus Malaria, Pemkab Nabire Terapkan Edukasi di Sekolah

NABIRE,(timikabisnis.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire melalui Dinas Pendidikan berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan UNICEF untuk mengintegrasikan edukasi malaria ke dalam proses pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan.

Langkah ini diambil sebagai upaya meningkatkan kesadaran sejak dini sekaligus menekan tingginya angka kasus malaria di kalangan anak usia sekolah.

Program tersebut diadakan karena berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire yang mencatat sekitar 900 kasus malaria terjadi pada peserta didik. Kondisi ini dinilai membutuhkan penanganan tidak hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga melalui pendidikan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dina Pidjer, mengatakan materi mengenai malaria akan dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang telah disepakati oleh tim perumus. Ke depan, pemerintah juga akan mengembangkan muatan lokal kesehatan yang mencakup edukasi tentang HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), dan malaria.

“Pada tahap pertama, seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Nabire akan menerapkan pembelajaran malaria yang terintegrasi dalam mata pelajaran sesuai kesepakatan tim perumus pada 22 Juni 2026,” ujar Dina melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi timikabisnis.com, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, penerapan pembelajaran malaria akan dimulai pada tahun ajaran 2026/2027, mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga SMA/SMK. Untuk mendukung pelaksanaannya, Dinas Kesehatan telah menyiapkan materi ajar dan buku panduan yang akan digunakan oleh tenaga pendidik.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Elvina Agustina, didampingi Kepala Seksi P2M Alfred Lambey, mengungkapkan bahwa sejak Januari hingga Juni 2026 terdapat 4.060 kasus positif malaria di Nabire. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 kasus menyerang anak usia sekolah.

Menurut Elvina, malaria merupakan penyakit yang tidak boleh dianggap sepele karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti anemia, pembesaran limpa, gangguan pada otak, hingga berdampak pada kemampuan belajar anak. Paparan malaria yang berulang juga berisiko menurunkan fungsi kognitif serta konsentrasi siswa di sekolah.

Kolaborasi lintas sektor ini mendapat apresiasi dari Health Officer UNICEF Wilayah Papua, Iswahyudi. Ia menegaskan bahwa eliminasi malaria tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, melainkan membutuhkan dukungan dunia pendidikan dan seluruh pemangku kepentingan.

Berbagai penelitian, lanjutnya, menunjukkan bahwa infeksi malaria berulang dapat meningkatkan angka ketidakhadiran siswa, menurunkan prestasi belajar, hingga memicu komplikasi serius yang mengancam keselamatan jiwa apabila tidak ditangani dengan baik.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung Pemerintah Kabupaten Nabire dalam memperkuat upaya promotif dan preventif melalui pendidikan, sehingga target eliminasi malaria dapat tercapai dan anak-anak memperoleh lingkungan belajar yang lebih sehat,” pungkas Iswahyudi. (Lyddia Bahy).

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *