MIMIKA,(timikabisnis.com) – Puskesmas Mimika mencatat sebanyak 20 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga 8 Mei 2026. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan total kasus yang tercatat sepanjang tahun 2025, yakni sekitar 13 kasus.
Kepala Puskesmas Mimika, Mozes Untung, mengatakan peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian serius pihaknya. Puskesmas pun meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi terulangnya lonjakan kasus seperti yang terjadi pada tahun 2024.
“Jangan sampai kemudian ini akan mengulang siklus tahun 2024 kemarin, di mana di Puskesmas Mimika ada total 250 kasus,” ujar Mozes saat ditemui di Hotel Horison Diana, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, setiap laporan kasus DBD yang diterima dari rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya akan segera ditindaklanjuti apabila pasien berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Mimika.
Sebagai langkah penanganan, tim kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi dengan mendatangi lingkungan tempat tinggal pasien untuk mencari sumber penularan dan potensi sarang nyamuk penyebab DBD.
“Kalau ditemukan jentik nyamuk, akan dilakukan fogging dan abatisasi. Sekarang juga kami instruksikan rumah di sekitar pasien untuk melakukan pemeriksaan darah sebagai deteksi dini,” katanya.
Selain fogging dan abatisasi, Puskesmas Mimika juga mengintensifkan upaya deteksi dini guna menemukan kemungkinan kasus lain di sekitar lokasi pasien. Langkah ini diharapkan dapat menekan penyebaran penyakit sejak awal.
Meski terjadi peningkatan kasus, hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat DBD di wilayah kerja Puskesmas Mimika.
Mozes menjelaskan, DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut aktif menggigit pada pagi hingga sore hari dan berkembang biak di genangan air bersih, seperti bak mandi, penampungan air, ember, pot tanaman, maupun ban bekas yang menampung air hujan.
Karena itu, masyarakat diimbau rutin membersihkan tempat-tempat penampungan air dan tidak membiarkan genangan air lebih dari satu minggu agar siklus perkembangbiakan nyamuk dapat diputus.
“Masyarakat harus rutin membersihkan tempat-tempat penampungan air. Jangan sampai ada genangan lebih dari seminggu karena itu cukup untuk siklus nyamuk berkembang biak,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat menggunakan losion antinyamuk, terutama bagi anak-anak sekolah dan warga yang banyak beraktivitas pada pagi hari.
“Kami berharap masyarakat semakin sadar untuk membersihkan sarang nyamuk secara rutin agar kasus demam berdarah tidak terus meningkat,” tandasnya.(Liddya Bahy)

