MIMIKA,(timikabisnis.com) – Di sudut sunyi Kampung Kekwa, lahir seorang putra Kamoro dari keluarga sederhana yang sejak kecil ditempa oleh keterbatasan. dilahirkan di Jayapura pada 13 April 1972, takdir membawanya kembali ke tanah asal di Timika saat memasuki usia sekolah dasar. Dari kampung kecil itulah ia belajar tentang keteguhan, kerja keras, dan arti pengabdian.
Ia adalah Abraham Kateyau, sosok yang kini dikenal sebagai Putra Pertama suku Kamoro yang dipercaya menjabat sebagai Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika.
Ditempa Keterbatasan,Dibesarkan Oleh Mimpi
Perjalanan hidup Abraham bukanlah kisah tentang kemudahan. Pendidikan dasarnya ia tempuh di SD Kekwa, kemudian melanjutkan ke SMP Kokonao. Demi menggapai masa depan yang lebih luas, ia merantau ke Nabire untuk bersekolah di SMA Katolik Adiluhur.
Pada masa itu, melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA sudah menjadi perjuangan besar bagi seorang anak kampung. Namun semangatnya tak pernah padam.
Kesempatan emas datang melalui jalur Seleksi Lokal Siswa Berpotensi (SLSB). Tanpa tes, ia diterima di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Awalnya, Abraham memilih program Diploma Tiga (D III) cabang Olahraga dengan cita-cita menjadi guru olahraga. Namun seiring perjalanan waktu, panggilan hatinya berubah.
Ia mengambil keputusan besar: beralih ke jurusan Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ottow Geissler. Keputusan itu menjadi titik balik kehidupannya.
Dengan tekad dan disiplin, putra bungsu dari dua bersaudara pasangan almarhum Paulus Kateyau dan Hendrika Kateyau ini berhasil meraih gelar sarjana.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar magister melalui program kerja sama pemerintah daerah dan Universitas Cenderawasih.
Di masa itu, hanya sedikit putra Kamoro yang mampu menembus pendidikan tinggi. Keberhasilannya menjadi inspirasi dan bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi besar.
Beasiswa yang Mengubah Arah Hidup
Perjalanan akademiknya semakin kokoh ketika sejak tahun 2000 hingga 2021 ia menjadi penerima beasiswa PT Freeport Indonesia melalui YPMAK selaku pengelola dana kemitraan PTFI.
Baginya, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan finansial, melainkan wujud perhatian dan campur tangan Tuhan melalui banyak pihak yang peduli terhadap masa depan generasi Papua, khususnya suku Amungme dan Kamoro.
“Kalau bukan karena campur tangan Tuhan dan perhatian dari Freeport melalui YPMAK, mungkin saya tidak tahu akan jadi seperti apa hari ini,” kenangnya.
Kesempatan kembali menghampiri saat ia direkrut PT Freeport Indonesia tanpa tes, pada masa ketika sarjana dari suku Kamoro masih sangat terbatas.
Ia dipercaya bergabung dengan perusahaan tersebut, menerima gaji besar dan fasilitas yang menjanjikan. Bahkan peluang penugasan ke luar negeri terbuka lebar di hadapannya.
Masa depan mapan telah berada dalam genggaman.
Ketika Kenyamanan Harus Ditinggalkan
Namun hidup memberinya pilihan yang tak mudah.
Ketika pemerintah daerah membuka peluang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan namanya tercantum dalam Surat Keputusan (SK) Bupati, Abraham dihadapkan pada dilema besar, bertahan dalam kenyamanan atau pulang untuk mengabdi.
Setelah berdiskusi dengan keluarga, terutama sang ibu, Hendrika Kateyau, ia memilih meninggalkan kenyamanan tersebut. Ia memulai kembali dari bawah sebagai staf di Dinas Sosial.
Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin terlihat sebagai kemunduran. Tetapi bagi Abraham, itulah jalan pengabdian yang ia yakini.
Ia memaknai kesuksesan bukan dari besarnya angka di slip gaji, melainkan dari keberanian memilih jalan yang benar.
“Saya percaya ketika kita berani memilih jalan yang diyakini benar, Tuhan pasti akan membuka jalan,” ujarnya.
Mengabdi untuk Tanah Kelahiran
Langkah demi langkah ia jalani dengan konsisten dan penuh dedikasi. Hingga akhirnya, ia dipercaya memegang tanggung jawab besar sebagai Pj Sekda Kabupaten Mimika – sebuah capaian bersejarah bagi putra asli suku Kamoro.
Kisah hidup Abraham Kateyau menjadi pesan kuat bagi generasi muda Papua,bahwa pendidikan adalah pintu masa depan, kesempatan adalah anugerah yang harus dijaga, dan pengabdian adalah panggilan yang hanya dapat dijawab oleh mereka yang berani meninggalkan kenyamanan.
Dari Kampung Kekwa menuju Mimika, dari kesederhanaan menuju kepemimpinan, Abraham Kateyau membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tanah yang sederhana – dan keberanian adalah kunci untuk menjadikannya nyata. (Lyddia Bahy)

