Bandung (timikabisnis) – Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mimika mengunjungi salah satu UKM Kelompok Tani yang memproduksi Ubi Jalar dengan merek Ubi Jalar Malabar, kelompok tani ini terletak di Kampung pasir huni, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Rabu (12/10).
Ubi jalar Malabar terkenal karena rasanya yang unik, manis seperti madu, ubi jalar malabar satu varietas dengan ubi Cilembu yang lebih dulu terkenal.
Rombongan komisi B diterima oleh pelaku usaha Ubi jalar Malabar.
Duta petani milenial Kementan RI, Nasrul, yang bertugas didaerah tersebut menjelaskan pihaknya saat ini membina 243 petani yang tersebar dikabupaten Bandung.
Salah satu petani binaan Duta petani yang cukup berhasil adalah Pak Agus yang memiliki lahan binaan seluas 20 hektar.
Rata-rata hasil panen petani kampung tersebut sekitar 18 ton perhektar permusim panen, 50 persen dari hasil panen tersebut masuk pasar eksport.
Produksi Ubi Jalar Malabar dari Kampung Pasir Huni ini sudah menembus pasar Eksport ke sejumlah negara Asia seperti Hongkong, Singapura, Taiwan, sebagian kecil ke Korea Selatan.
Menurut Nasrul harga jual Ubi Malabar ke penampung berkisar Rp. 9.000 perkilo, sedangkan harga jual eksportir, berkisar Rp.15.000 sampai Rp. 17.000 perkilo.
” Penghasilan rata-rata petani berkisar Rp.60 juta perhektar permusim, dari proses tanam hingga panen memakan waktu 4 bulan” katanya,
Selain dijual mentah ubi jalar Malabar juga diproduksi dalam bentuk olahan yang sebagian besar dikirim ke Jawa tengah, dan Kuningan. Produk olahan berbentuk steam maupun pasta.
Ketua komisi B, M Nurman Karupukaro menjelaskan pentingnya kunjungan ke Petani Ubi Jalar untuk melihat langsung proses produksi Ubi Jalar Malabar.
” Kami melihat kerjasama yang baik antara pelaku usaha, petani maupun pemerintah sehingga ini menjadi pelajaran kita kedepan bahwa pemerintah tidak boleh tutup mata terhadap pertanian khususnya umbi-umbian* katanya.

Hasil dari studi banding ini diharapkan pemerintah segera menyiapkan Petugas Penyuluh, Dinas pertanian perlu datang untuk melihat langsung alur dari proses tanam hingga panen, kemudian proses pemeliharaan, hingga ketahanan pangan.
“Target kita menembus market PT.Freeport karena selama ini kita lihat PT. Pangansari untuk kasih makan 30 ribu karyawan PTFI, masih mendatangkan bahan baku dari luar seperti Jakarta, Surabaya, bahkan Bandung” kata legislator partai Gerindra ini.
Dengan adanya studi banding ini kita berharap para petani mampu mengisi kebutuhan bahan baku Pngansari.
Terkait rencana kerjasama dengan kabupaten Bandung, Nurman mengatakan Usulan yang disampaikan kepada Kabupaten Bandung adalah program Sister City, Semua sektor bisa dilakukan kerjasama dengan Kabupaten Bandung.
” Sektor yang cukup menjanjikan diantaranya sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan darat, semua sektor di kabupaten Bandung ini cukup berhasil dan ini menjadi perhatan kita” katanya. (don)

