Timika (timikabisnis) – Tokoh Perempuan Amungme, Tembagapura, Martina Natkime meminta FPHS dan pengacara Nasional Haris Azhar, SH dapat membantu mereka agar bisa kembali ke kampung halamannya di Banti, Opitawak dan sekitarnya.
Dalam pertemuan bersama kuasa hukumnya berharap dapat membantu 1.800 warga yang hidup menderita saat ini di Timika agar bisa hidup normal lagi di kampung mereka sendiri di Banti. “ Saya bicara atas nama tiga kampung Banti I, Banti II, Opitawak. Timika hidup serba uang. Warga kami dari atas kesulitan karena mereka tidak punya kerja dan hidup di Timika harus sewa kos. Dalam satu kos bisa hidup 6-7 keluarga. Kami mohon Bapak pengacara bantu kami untuk kembali ke kampung sebelum Natal tahun ini,” kata Martina mewakili warganya dalam pertemuan dengan pengacara nasional Haris Azhar di Sekretariat FPHS Jalan Heatubun (Jalan Baru), Senin (26/10).
Dihadapan Pengacara Haris Azhar, SH, Martina menuturkan pihaknya turun ke Timika atas inisiatif sendiri karena takut, trauma adanya aksi baku tembak antara TNI/Polri dan TPN OPM (KKB). Dari Banti warga jalan kaki ke Sporthall Tembagapura lalu diantar dengan BUS milik PTFI ke Timika. Dari Tembagapura dibawah ke Kuala Kencana lalu dengan bus milik Pemkab baru ke Timika, sebagian ada yang di SP 2, sebagian di Jalan Baru.
“ Kami turun atas inisiatif sendiri, bukan atas paksaan dari Pemkab atau aparat TNI/Polri. Dan kami warga Banti bukan pengungsi. Kami warga ingin berlindung diri supaya kami aman, dan tidak mau dengar bunyi tembakan. Kalau ada yang bilang kami pengungsi itu salah, karena sebagian besar dari kami urus sendiri tidak mengharapkan bantuan dari Pemkab Mimika atau perusahaan PTFI. Sekarang diatas sudah aman, jadi kami mau kembali dan tinggal di kampung sendiri seperti sedia kala. Sebelum natal kami sudah diatas,” kata Martina.
Selama hidup di Timika kurang lebih tujuh bulan kata Martina, warga ada yang tinggal di rumah keluarga, ada yang tinggal di kos-kosan. Kadang satu kos, tinggal 6-7 keluarga, dan banyak yang tuan rumah usir karena tidak bayar uang kos berbulan-bulan. Sebagian besar warga tidak punya kerja, kalau diatas bisa kerja kebun atau mendulang itu sudah dapat uang. Timika hidup dari pagi sampai malam serba uang, dan masyarakat saya tidak bisa hidup, dan mereka mau kembali ke Banti dan Opitawak.
Tokoh masyarakat Banti-Opitawak Olinus Beanal, mengatakan 1.800 warga sangat menderita hidup di Kota Timika. Warga harus kerja cari uang untuk bisa menghidupi keluarganya selama 7 bulan di TImika. Warga hanya minta untuk bisa kembali ke Banti-Opitawak, karena saat ini diatas sudah benar-benar aman. Mermang sebelum turun semua rumah dikunci dengan harapan waktu di Timika hanya beberapa saat saja setelah aman baru mereka kembali tapi ini sudah berlanjut sam[ai tujuh bulan. Mohon FPHS bersama pengacara untuk membicarakan hal ini supaya warga ini bisa kemblai ke atas hidup seperti semula di kampung halaman mereka.
Pengacara FPHS sekaligus pengacara warga Banti-Opitawak, Haris Azhar, SH mengatakan bapak ibu yang punya kampung, punya kebun, tidak bisa kembali ke Banti karena dilarang Pemkab Mimika. Jika anda yang punya kampung dan punya tanah, tapi karena ada baku tembak, mari kita buat surat untuk TNI/Polri, untuk TPN OPM agar tidak boleh ganggu ketenangan warga dengan aksi baku tembak. “ Kita minta dukungan mereka agar warga bisa kembali hidup di kampung halamannya sendiri dengan nyaman. Kita juga kan bersurat ke perusahaan PTFI agar memfasilitasi keinginan masyarakat ini. Begitu pula dengan pemerintah kita akan sampaikan surat agar warga jangan biarkan begini terus tanpa ada penanganan yang jelas. Kita harus bicara terbuka ke media, seharusnya tidak halangan baig warga untuk kembali ke kampung halamanya. Kalau larang warga unutk kembali, pemkab harus carikan solusi buat mereka jangan biarkan mereka menderita seperti ini,” terang Azhari Azhar.
Tujuh bulan di timika, kata Haris sangat berat buat warga, bagaimana anda semua bisa hidup di kota dengan keadaan yang berbeda, iklim dan cuaca berbeda, situasi dan kondisi alam yang berbeda. Kehidupan semua warga ada di sana, di sana ada makan, minum dari alam, di sini susah dan harus kerja dulu banting tulang baru dapat makan. Diatas ada lahan luas bisa buat kebun, tanam keladi, petatas (ubi jalar), singkong, warga sudah bisa hidup. “ Jadi menurut saya rasanya tidak adil jika suara anda tidak didengar oleh semua pemangku kepentingan di daerah ini, di republik ini. Saaya akan membantu anda, apa yang menjadi keinginan anda, apa yang menjadi isi hati anda. Jadi tidak bisa orang meninggalkan rumahnya sampai tujuh bulan lamanya dan tinggal di kota bersama keluarga yang begitu berat bebannya. (tim)

