Timika Bukan Medan Perang, Willem Wandik Desak Aparat Tegakkan Hukum Positif

MIMIKA,(timikabisnis.com) – Mantan Bupati Kabupaten Puncak Willem Wandik merespon keras konflik berkepanjangan yang melibatkan dua kelompok warga asal daerah itu di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Dalam mengawali pernyataan persnya di Timika, Rabu (7/1/2026) Wandik menyampaikan ucapan turut berdukacita atas terjadinya konflik hingga menelan korban jiwa.

“Pertama-tama kami menyampaikan turut berdukacita atas pertikaian antar warga dari kelompok Newegalen dan pihak Dang yang terjadi di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah,” ungkapnya.

Menurut Wandik, peristiwa ini sangat melukai hati.“Kami sebagai bagian dari Suku Damal memang tidak banyak jumlahnya. Namun hari ini, sebagai orang-orang yang berpendidikan, sebagai insan gereja, dan sebagai bagian dari pemerintahan, kami merasa sangat malu dan prihatin atas peristiwa kekerasan yang terus terjadi,” kecamnya.

Wandik lantas menyoroti populasi jumlah orang Papua yang secara umum semakin menurun. Dan lebih khusus lagi, Suku Damal semakin berkurang baik karena sakit, konflik maupun berbagai sebab lainnya.

”Hal inilah yang paling memprihatinkan bagi kami adalah bahwa Suku Damal selalu diwarnai dengan perang dan pertikaian, baik di Puncak, Beoga, Ilaga, dan wilayah sekitarnya, hingga yang terakhir terjadi di Kuam Kelama,” sorotnya.

Wandik lantas meminta dengan tegas agar kedua belah pihak menerima setiap upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kabupaten yang hadir untuk melakukan penanganan awal dan mediasi.

“Semua langkah tersebut harus diterima dan dihormati demi keselamatan Bersama,” tegasnya.

Wandik secara pribadi, menyampaikan penyesalannya yang sangat mendalam atas terjadinya peristiwa ini. Terlebih lagi, baginya, korban jiwa yang jatuh adalah orang-orang yang sesungguhnya luar biasa, orang-orang hebat yang akan membawa harapan dan masa depan generasi Suku Damal.

Mereka adalah anak-anak muda, calon orang tua, generasi penerus yang seharusnya melahirkan kehidupan baru, bukan mati sia-sia karena pertikaian antar kelompok maupun antar keluarga.

“Budaya saling membunuh seperti ini, saya minta dalam nama Tuhan Yesus harus dihentikan dan dihilangkan. Suku-suku lain berkembang, maju, dan bertambah banyak sesuai dengan firman Tuhan: “Beranakcuculah dan bertambah banyak.” Tetapi jika kita terus berperang dan saling membunuh, maka kita justru akan habis dan punah. Ini tidak boleh terjadi,” kembali tegasnya.

Oleh karena itu, Wandik meminta dengan tegas kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Puncak, dan juga Mimika, agar tidak membiarkan konflik ini berlarut-larut.

“Tegakkan hukum positif secara tegas dan adil. Siapapun yang menjadi pelaku dan provokator perang, baik dari pihak Newegalen maupun pihak Dang harus ditangkap dan diproses sesuai hukum,” desaknya.

“Timika bukan kota perang. Tidak boleh ada pembiaran. Penegakan hukum harus berjalan agar perang ini dihentikan, agar korban jiwa tidak terus berjatuhan dan agar masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup, berkembang, dan membangun masa depan,” sambung Wandik.

“Kami sampaikan atas nama masyarakat, Suku Damal, gereja, dan unsur pemerintahan, dengan harapan dan ketulusan hati. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berharap pesan pencerahan ini dapat diterima oleh kedua belah pihak, baik Newegalen maupun Dang,” pungkansya. (Redaksi)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *