Tangan Magdalena, Tambelo Menjelma Menjadi Harapan

MIMIKA,(timikabisnis.com) – Senyum hangat menyambut saya ketika tiba di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang di pesisir Mimika. Udara terasa sejuk, sementara kicauan burung bersahutan memecah keheningan siang. Di teras rumah itu, seorang perempuan paruh baya berdiri menanti.

“Masuk… mari duduk,” sapanya ramah.

Perempuan itu adalah Magdalena W. Iri, seorang mama Kamoro yang memilih tetap berpijak pada akar budayanya di tengah perubahan zaman. Dari tangan perempuan sederhana inilah, tambelo-pangan tradisional masyarakat pesisir Papua yang kerap dipandang sebelah mata-menjelma menjadi produk olahan bernilai ekonomi dan membawa harapan baru bagi pangan lokal.

Perjalanan Magdalena tidak dimulai dari tambelo. Sejak muda, ia lebih dahulu menekuni kerajinan anyaman khas Kamoro yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya.

“Awalnya mama usaha di bidang kerajinan tangan,” katanya.

Tak lama kemudian ia tersenyum dan mengoreksi ucapannya.

“Sebenarnya bukan usaha. Itu warisan.”

Warisan itu diwariskan dari moyang kepada nenek, kemudian kepada ibunya, hingga akhirnya sampai kepadanya. Magdalena tumbuh dalam keluarga yang hidup berdampingan dengan alam. Saat itu, hampir semua kebutuhan rumah tangga dibuat sendiri.

“Nenek menganyam setiap hari. Tikar dari daun, payung juga dari daun. Semua berasal dari alam,” kenangnya.

Dari sanalah ia belajar bahwa alam bukan hanya tempat bergantung hidup, tetapi juga sumber pengetahuan dan kreativitas.

Setelah menikah dan membangun keluarga, Magdalena kembali menekuni keterampilan tersebut. Namun, ia merasa warisan budaya harus terus berkembang agar tidak ditinggalkan zaman.

Keinginannya untuk berinovasi membawanya mencoba berbagai produk herbal, mulai dari minyak kelapa murni hingga minyak terapi berbahan tanaman lokal. Hingga akhirnya, pikirannya tertuju pada tambelo.

Bagi masyarakat Kamoro, tambelo bukanlah makanan asing. Hewan yang hidup di batang kayu mangrove itu telah lama menjadi sumber pangan dan dipercaya kaya akan protein serta kalsium. Namun bagi banyak orang di luar Papua, bentuknya yang menyerupai cacing membuat mereka enggan mencicipinya.

Di situlah Magdalena melihat peluang.

Ia membayangkan tambelo dapat diolah menjadi makanan yang lebih mudah diterima semua kalangan.

Perjalanan mewujudkan gagasan itu tidak mudah. Bertahun-tahun ia bereksperimen mencari komposisi yang tepat. Berkali-kali ia gagal, namun tidak pernah berhenti mencoba.

“Saya cari resepnya bertahun-tahun,” tuturnya.

Usaha panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Tambelo berhasil diolah menjadi kerupuk dan stik yang renyah tanpa menghilangkan kandungan gizinya.

Menurut Magdalena, proses pembuatannya dimulai dengan mencari tambelo di batang mangrove yang telah lapuk. Setelah dibersihkan, tambelo diolah bersama bahan-bahan lain hingga menjadi adonan, dikeringkan, lalu digoreng menjadi kerupuk.

“Yang paling laku sekarang kerupuk,” katanya.

Baginya, inovasi tersebut bukan sekadar menciptakan camilan baru, tetapi juga memberi nilai tambah pada pangan lokal yang selama ini hanya dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat pesisir.

Perlahan, hasil karyanya mulai dikenal luas. Usaha yang dirintis sekitar empat tahun lalu kini telah membawa kerupuk tambelo hingga Batam, Bali, Padang, Gorontalo, Jakarta, dan berbagai daerah lainnya sebagai oleh-oleh khas Mimika.

Berbagai pameran UMKM turut membuka jalan bagi produknya. Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Koperasi dan UMKM bahkan membangun rumah produksi di samping kediamannya pada 2024 sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha tersebut.

Namun hingga kini, rumah produksi itu belum beroperasi secara maksimal karena masih membutuhkan berbagai peralatan pendukung.

Di balik keberhasilannya, Magdalena juga menyimpan luka. Ia mengaku pernah bekerja sama dengan sebuah yayasan yang memesan produknya dalam jumlah besar.

Menurut pengakuannya, setelah mengetahui proses pengolahan yang dikembangkannya, pihak tersebut kemudian memproduksi produk serupa tanpa melibatkannya.

“Mereka lihat komposisi saya, lalu mereka kopi semua,” ujarnya.

Magdalena mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan jika masyarakat ingin mengembangkan olahan tambelo. Yang ia harapkan hanyalah penghargaan terhadap proses panjang yang telah dilaluinya.

“Kalau mama-mama Papua mau belajar, saya senang. Tambelo memang makanan kami. Tapi hargailah orang yang memulainya. Hubungi saya. Libatkan saya. Jangan mengambil semuanya lalu mengaku sebagai penemu,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, pihak yayasan yang disebut Magdalena belum memberikan tanggapan terkait pernyataan tersebut.

Pengalaman itu membuatnya semakin menyadari pentingnya perlindungan hukum bagi pelaku UMKM. Kini ia telah mengantongi sertifikat halal, izin produksi, merek dagang, serta hak kekayaan intelektual untuk produknya.

Sebelum saya berpamitan, Magdalena kembali tersenyum. Di balik kesederhanaannya, saya melihat seorang perempuan yang memilih bertahan menjaga warisan leluhur, bukan hanya dengan mengenangnya, tetapi dengan menghidupkannya melalui inovasi.

Di tangan Magdalena, tambelo bukan lagi sekadar pangan tradisional masyarakat Kamoro. Ia telah menjelma menjadi simbol ketekunan, keberanian berinovasi, dan harapan agar kekayaan pangan lokal Papua terus hidup, dihargai, dan diwariskan kepada generasi mendatang.(Liddya Bahy)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *