PLN Hadirkan Rumah Ikan FABA di Holtekamp, Dorong Pemulihan Ekosistem dan Ekonomi Nelayan

JAYAPURA, (timikabisnis.com)– Upaya memulihkan ekosistem pesisir sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat terus dilakukan di kawasan Pantai Holtekamp, Kota Jayapura.

PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menempatkan 50 unit rumah ikan berbahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) di perairan Holtekamp, Kamis (3/9).

Program tersebut menjadi bagian dari inovasi pemanfaatan material sisa pembakaran PLTU Holtekamp melalui pendekatan Creating Shared Value (CSV).

FABA yang selama ini menjadi bagian dari sisa operasional pembangkit dimanfaatkan menjadi struktur rumah ikan yang diharapkan dapat menciptakan habitat baru bagi biota laut.

Dalam pelaksanaannya, PLN menggandeng komunitas Enak Apa Bilang (EAB) Outdoor. Rumah ikan dibuat secara swadaya menggunakan campuran FABA, pasir, semen, dan chipping.

Sebanyak empat penyelam kemudian menurunkan modul-modul tersebut ke dasar laut dengan kedalaman sekitar 5 hingga 7 meter.

Untuk menjaga keselamatan pelayaran, rumah ikan ditempatkan sekitar 25 meter dari jalur perlintasan kapal. Struktur tersebut diharapkan menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bagi ikan-ikan pesisir, terutama benih ikan yang rentan terhadap arus laut maupun predator.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Richard J. Nahumury, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, keberadaan rumah ikan tidak hanya berkaitan dengan pemulihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan manfaat ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.

” Proyek ini tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, melainkan harus memberi dampak ekonomi jangka panjang yang nyata. Kawasan pesisir diintegrasikan dengan sektor ekonomi kreatif serta pariwisata,” ungkapnya.

Ia menilai kawasan rumah ikan ke depan dapat dikembangkan menjadi sarana edukasi bahari sekaligus destinasi wisata berbasis masyarakat. Pengembangan tersebut dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat Papua yang memiliki keterikatan kuat dengan laut sebagai sumber penghidupan sekaligus bagian dari budaya.

Dari sisi komunitas, pemanfaatan FABA dinilai menjadi salah satu cara untuk mengubah material sisa pembakaran menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekologis dan sosial.

Perwakilan EAB Outdoor, Fendy Joyo, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan laut serta keinginan agar limbah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

” Kami berharap anak cucu kita kelak masih bisa melihat keindahan laut yang kita lihat saat ini. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga alam?” ucapnya.

Sementara itu, Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN UIW Papua dan Papua Barat, Dhana Adhipratama, mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan material yang digunakan.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan rumah ikan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

” Kunci utama keberhasilan program ini sepenuhnya terletak pada pemeliharaan, pengawasan, dan rasa memiliki (sense of belonging) dari masyarakat Holtekamp,” timpalnya.

PLN berharap keberadaan rumah ikan dapat membantu memperkaya keanekaragaman hayati di perairan Holtekamp dan secara bertahap meningkatkan populasi ikan di sekitar kawasan.

Jika ekosistem berkembang dengan baik, nelayan lokal diharapkan memperoleh manfaat melalui meningkatnya hasil tangkapan tanpa harus menempuh jarak melaut yang lebih jauh.

Di sisi lain, kawasan tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata selam berbasis masyarakat. Dengan demikian, program rumah ikan tidak hanya diarahkan sebagai proyek konservasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan sumber ekonomi baru bagi warga pesisir.

Program ini sekaligus memperkuat komitmen PLN dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Melalui pemanfaatan FABA, PLN berupaya menghubungkan aktivitas penyediaan energi dengan upaya menjaga lingkungan dan menciptakan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat di Tanah Papua. (Lyddia Bahy).

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *