MIMIKA,(timikabisnis.com) – Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dipercaya oleh Kementerian Agama Republik Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Nasional Kota Toleransi ke-2 Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 16 November 2026.
Kegiatan berskala nasional ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, kerukunan antarumat beragama, serta keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman agama, bahasa, dan budaya.
Bupati Mimika, Johanes Rettob, menyambut baik kepercayaan tersebut. Menurutnya, kesempatan ini menjadi momentum bagi Mimika untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
“Kita sebagai kabupaten yang harmonis di Indonesia, sehingga dipercaya menjadi tuan rumah,” ujar Rettob saat diwawancarai, Senin (12/10/2026).
Ia mengatakan, konferensi tersebut bukan sekadar agenda pertemuan berskala nasional, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kehidupan masyarakat Mimika yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan.
Karena itu, dukungan pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Sinergi antarpihak juga dinilai penting agar nilai-nilai toleransi dan keharmonisan yang telah terbangun dapat terus dipertahankan.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Mimika telah memulai koordinasi lintas sektor dengan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan sejumlah pihak terkait.
Rapat perdana persiapan juga dijadwalkan untuk membahas berbagai kebutuhan penyelenggaraan, termasuk koordinasi dengan unsur-unsur yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut.
Konferensi Nasional Kota Toleransi ke-2 Tahun 2026 direncanakan menghadirkan kepala daerah, perwakilan FKUB, serta unsur pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Sementara itu, jumlah peserta yang akan hadir masih menunggu perkembangan persiapan dan konfirmasi resmi panitia.
Rettob berharap seluruh pihak dapat bekerja sama dan memberikan dukungan agar pelaksanaan konferensi berjalan lancar. Ia juga ingin agar para peserta yang datang dari berbagai daerah dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat Mimika yang mampu menjaga keharmonisan di tengah perbedaan.
“Kita harus tunjukkan bahwa orang yang datang ke sini bisa melihat sendiri bahwa kita hidup harmonis. Walaupun berbeda agama, bahasa, dan budaya, kita tetap saling mendukung dan hidup berdampingan,” tegasnya.
Menurutnya, keberagaman yang ada di Mimika harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan, mempererat persaudaraan, dan menjaga kehidupan masyarakat yang damai.
Melalui penyelenggaraan konferensi nasional ini, Mimika diharapkan tidak hanya sukses menjadi tuan rumah, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun kehidupan yang harmonis, menjunjung toleransi, dan menghargai perbedaan.(Liddya Bahy)

