MIMIKA,(timikabisnis.com) – Langkah menuju Kabupaten Mimika yang lebih sehat terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan lintas stakeholder dalam rangka penguatan implementasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Hotel Horison Diana, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu menjadi forum untuk menyatukan langkah antara pemerintah, masyarakat, mitra pembangunan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mempercepat pelaksanaan program sanitasi di Mimika.
Program tersebut diarahkan untuk mendukung target besar Kabupaten Mimika, yakni mencapai status bebas buang air besar sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) pada 2027.
Komitmen tersebut diperkuat melalui kolaborasi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), selaku pengelola dana kemitraan PTFI, Yayasan Rumsram, Care Peduli, serta sejumlah mitra kerja lainnya.
Pertemuan lintas stakeholder tersebut turut melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), antara lain Bappeda bidang Fispra dan PPM, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, DPMK, unsur pemberdayaan kampung, puskesmas, distrik, mitra pembangunan, hingga pihak CSR.
Program Manager Yayasan Rumsram, Thimorius Rumansara, mengatakan forum tersebut penting untuk menyelaraskan program sekaligus memperjelas pembagian peran setiap pihak dalam mempercepat pemenuhan kebutuhan sanitasi masyarakat.
“Pertemuan ini kita kumpulkan agar ada pembagian tugas masing-masing, baik OPD, CSR maupun kampung, untuk mempercepat penyediaan jamban yang layak bagi masyarakat dan mengurangi buang air besar sembarangan,” ujar Thimorius.
Menurut dia, melalui program STBM, Yayasan Rumsram bersama mitra telah melakukan intervensi di 18 kampung yang tersebar dari wilayah pesisir hingga dataran tinggi Mimika.
Dari wilayah tersebut, lima kampung dipersiapkan menjadi percontohan dalam pencapaian status ODF pada 2026.
Kelima kampung itu yakni Kampung Ohtya di Distrik Mimika Timur Jauh, Kampung Amungun dan Emkomahalama di Distrik Agimuga, serta Kampung Aikawapuka dan Mioko di Distrik Mimika Tengah.
Kelima kampung tersebut diharapkan menjadi pelopor perubahan perilaku sanitasi sekaligus contoh yang dapat direplikasi di kampung-kampung lain di Mimika.
Thimorius menjelaskan, pendekatan STBM tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan jamban atau penyediaan fasilitas sanitasi. Program ini juga menitikberatkan pada perubahan pola pikir, peningkatan kesadaran, serta pembentukan kebiasaan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk memastikan intervensi tepat sasaran, tim di lapangan juga melakukan edukasi, pendataan, dan verifikasi kondisi sanitasi rumah tangga. Data tersebut meliputi rumah yang belum memiliki jamban, jamban yang belum memenuhi standar kelayakan, hingga penggunaan jamban keluarga maupun fasilitas umum.
Hasil pendataan tersebut akan menjadi bahan bagi instansi terkait dalam menentukan langkah intervensi selanjutnya.
Namun, pelaksanaan program di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi geografis Mimika yang luas, faktor keamanan, keterbatasan transportasi, serta tingginya biaya mobilisasi menuju kawasan pegunungan menjadi sejumlah kendala yang harus dihadapi.
Selain itu, persebaran masyarakat di sejumlah kampung membutuhkan strategi khusus agar edukasi dan intervensi sanitasi dapat menjangkau seluruh warga.
Untuk mengantisipasi berbagai kendala tersebut, koordinasi dengan pemerintah distrik, puskesmas, aparat keamanan, dan instansi terkait terus dilakukan sebelum tim turun melaksanakan kegiatan di lapangan.
Thimorius berharap dukungan terhadap gerakan sanitasi tidak berhenti pada program yang sedang berjalan, tetapi dapat diadopsi dan diperluas oleh pemerintah daerah, pemerintah kampung, dunia usaha melalui program CSR, serta mitra pembangunan lainnya.
Menurutnya, sanitasi merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat. Lingkungan dan perilaku sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko berbagai persoalan kesehatan, termasuk diare dan stunting.
Karena itu, penyediaan fasilitas cuci tangan pakai sabun juga didorong di berbagai tempat, mulai dari puskesmas, pustu, kantor dan balai kampung hingga sekolah.
Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan semakin memperkuat dukungan terhadap program STBM sehingga target sanitasi layak dapat dipercepat dan perubahan perilaku masyarakat berlangsung secara berkelanjutan.
“Harapan kami, dari kampung-kampung tersebut, Mimika diharapkan semakin dekat dengan target bebas BABS pada 2027 dan memiliki masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat,” tandasnya.(Liddya Bahy)

