MIMIKA, (timikabisnis.com)- Tumpukan buku di atas alas baliho bekas pernah menjadi pemandangan sederhana di sudut-sudut keramaian Mimika. Tak ada gedung megah, tak pula rak buku yang tertata rapi. Hanya buku-buku, ruang terbuka, dan seorang pemuda yang percaya bahwa pengetahuan seharusnya dapat dijangkau siapa saja.
Ia adalah Tobi Bagubau, 26 tahun, putra Amungme, salah satu suku asli Papua yang memiliki ikatan kuat dengan tanah leluhur di wilayah pegunungan Mimika. Dari tanah yang membesarkannya, ia merawat harapan agar anak-anak muda di daerahnya memiliki kesempatan lebih luas untuk membaca, berpikir, dan mengenal dunia melalui buku.
Sejak 2019, Tobi memilih jalan sederhana untuk mewujudkan harapan itu. Ia membawa buku-buku dari satu tempat ke tempat lain, membuka lapak baca di ruang-ruang publik, dan mengajak masyarakat mendekat pada pengetahuan tanpa harus melewati pintu gedung perpustakaan.
Baginya, buku adalah pintu untuk memahami kehidupan, membaca persoalan di sekitar, dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. ” Buku bukan sekadar untuk dibaca, tetapi juga untuk membuka pikiran dan membantu kita memahami persoalan di sekitar,” ucap Tobi sembari menyodorkan sebuah buku tua berjudul Kiri Sampai di Sini, karya Fariq Zamzami.
Berawal dari Kegelisahan
Gerakan literasi yang dirintis Tobi berangkat dari kegelisahannya melihat terbatasnya ruang bagi anak-anak muda di Mimika untuk membaca dan bertukar pikiran. Di tengah perkembangan teknologi, ia melihat banyak orang lebih tertarik menghabiskan waktu dengan gawai daripada membaca buku.
Berdasarkan hasil kajian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) tahun 2024, tingkat kegemaran membaca masyarakat di Kabupaten Mimika tercatat sebesar 54,83 dan berada dalam kategori sedang.
Capaian ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap aktivitas membaca telah tumbuh, tetapi masih perlu ditingkatkan agar budaya literasi dapat berkembang secara lebih luas dan berkelanjutan.

Di tengah tantangan tersebut, pengalaman Tobi dalam menempuh pendidikan di Surabaya turut membentuk pandangannya tentang arti penting pengetahuan dan proses belajar. Kuliahnya tak sampai tuntas, tetapi tidak dengan harapannya. Ia tak ingin berhenti belajar dan berbagi pengetahuan dengan sesama.
Sepulangnya ke Mimika, ia mulai membawa buku-buku miliknya ke lapak sederhana di jalanan lalu mengajak teman-temannya membaca bersama. Dari pertemuan kecil itu, lapak baca perlahan tumbuh menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Tak ada bangunan khusus yang menaunginya. Baliho bekas menjadi alas, buku-buku disusun seadanya, sementara jalanan dan ruang publik menjadi tempat mereka bertemu. ” Literasi tidak harus selalu berlangsung di dalam gedung. Yang penting, bagaimana buku bisa menjangkau masyarakat dan menjadi ruang belajar bersama,” ujarnya.
Membawa Buku Mendekati Masyarakat
Dengan Yamaha Jupiter bekas pemberian saudaranya, Tobi mengangkut buku-bukunya menyusuri jalanan Mimika, dari kawasan Bandara Lama hingga permukiman SP 3, SP 6, SP 9, dan SP 12. Ia menjangkau kawasan-kawasan yang relatif jauh dari pusat kota dan Perpustakaan Daerah, tempat akses terhadap bahan bacaan tak selalu mudah. Baginya, jarak bukan alasan untuk membiarkan pengetahuan berhenti di tengah kota. Melalui lapak baca sederhana, ia berusaha membawa buku lebih dekat kepada masyarakat, agar siapa pun tetap memiliki kesempatan untuk membaca, belajar, dan mengenal dunia lebih luas.
Lapak baca biasanya dibuka pada sore hari ketika aktivitas masyarakat mulai mereda. Anak-anak muda datang untuk memilih bacaan, menambah wawasan, atau berdiskusi. Buku-bukunya berasal dari koleksi pribadi, sumbangan, hingga pembelian menggunakan uang sendiri. Koleksi tersebut pernah mencapai lebih dari 5.000 eksemplar.

Jumlah tersebut bukan sekadar deretan angka. Di balik setiap buku, ada upaya untuk menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain. Dan disitu Tobi hadir sebagai ruang berbagi ilmu melalui buku-buku yang dapat dibaca dan dipinjam secara gratis oleh siapa saja, dengan batas waktu peminjaman maksimal satu minggu. Jika bukunya hilang, peminjam wajib mengganti sesuai harga buku, sedangkan keterlambatan pengembalian dikenakan denda Rp5.000 per hari.
Menariknya, tak hanya sekadar menyediakan bacaan, setiap pembaca diajak berbagi pemahaman, memperkaya imajinasi, dan menumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi melalui apa yang dibacanya. Dirinya pun berharap lapak itu menjadi tempat anak-anak muda belajar menulis, mendiskusikan persoalan sosial, menyampaikan pendapat, dan merancang kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan mereka.
Perlahan, gerakan itu juga melibatkan anak-anak muda yang bersedia membantu secara sukarela. Mereka ikut menjangkau masyarakat, merawat lapak, dan menjadi bagian dari usaha kecil untuk menumbuhkan budaya membaca di Mimika.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Mengangkut buku, berpindah lokasi, menyiapkan lapak, dan memenuhi kebutuhan operasional membutuhkan tenaga serta biaya. Selama ini, Tobi berusaha mempertahankan gerakan tersebut dengan sumber daya yang ia miliki.
Ketika Roda Berhenti Berputar
Awal 2026 menjadi titik ketika langkah Tobi mulai terhenti. Sepeda motor Jupiter keluaran 2005 yang selama bertahun-tahun menjadi penghubung antara buku dan pembacanya mengalami kerusakan. Kendaraan itu tak lagi dapat diandalkan untuk mengangkut buku dan menjangkau lokasi-lokasi lapak baca.

Sejak saat itu, aktivitas yang dahulu rutin ia jalankan terpaksa berhenti. Buku-bukunya masih ada. Keinginannya untuk kembali menyapa masyarakat melalui lapak baca pun tidak berubah. Sepeda motor itu bukan sekadar alat transportasi. Baginya, kendaraan tersebut adalah kaki yang membawanya mendekati masyarakat, sekaligus penghubung bagi ribuan buku yang ingin ia bagikan.
Tobi telah berupaya mencari dukungan, termasuk mengajukan proposal bantuan kendaraan roda dua kepada sejumlah pihak. Ia berharap instansi yang membidangi pendidikan dan perpustakaan dapat membantu menghidupkan kembali gerakan literasi tersebut. Namun, menurut penuturannya, proposal yang diajukan belum mendapat tanggapan hingga 2026.
Di tengah ketidakpastian itu, Tobi harus tetap memenuhi kebutuhan hidup. Ia kemudian bekerja di sebuah tempat usaha, sementara keinginan menghidupkan kembali lapak baca terus ia simpan. ” Langkah boleh berhenti di jalan, tapi jangan pengetahuan,” ucapnya.
Menjaga Harapan, Merawat Jejak
Sepuluh bulan berlalu, ketika lapak baca tak lagi rutin dibuka, Tobi tetap menyimpan kebanggaan terhadap anak-anak muda yang pernah tumbuh bersama gerakannya. Sebagian dari mereka kini bekerja, sementara yang lain melanjutkan pendidikan. Mereka menempuh jalan masing-masing, membawa pengalaman yang pernah dibangun melalui buku dan percakapan.
Bagi Tobi, keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata diukur dari jumlah buku atau lamanya sebuah lapak berdiri. Lebih dari itu, ada pengetahuan yang dibagikan, keberanian untuk berpikir, dan semangat belajar yang tumbuh dalam diri seseorang.
” Saya ingin ada generasi berikutnya yang meneruskan gerakan ini, bahkan membuatnya lebih besar dan menjangkau lebih banyak orang,” tuturnya. (Lyddia Bahy).

