Timika Pantai (timikabisnis) – Komisi I DPRK Mimika melaksanakan kunjungan kerja ke wilayah Timika Pantai guna menyerap langsung aspirasi masyarakat terkait kebutuhan pembangunan di kampung, Sabtu (7/11/2026). Kegiatan dihadiri Ketua DPRK Mimika Primus Natikapereyau, Ketua Komisi I Alfian Akbar Balyanan beserta para anggota Komisi I Daud Bunga, Anton Pali, Matius Yanengga, Iwan Anwar, Anton Alom, Esterika Komber, dan Agustinus Murib.
Dalam sambutannya, Ketua DPRK Primus Natikapereyau menyampaikan apresiasi atas penyambutan adat yang diberikan masyarakat. ”Ini menunjukkan bahwa warga Mimika tetap menjaga dan menghargai nilai‑nilai adat,” ujar Primus seraya mengajak masyarakat menyampaikan masukan yang konkrit untuk dibawa ke forum pemerintah daerah.
Sementara itu Ketua Komisi I Alfian Akbar Balyanan menjelaskan tujuan kunjungan kerja. ”Kami datang untuk saling bertukar pikiran bagaimana membangun kampung ini. Pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang pemerintah atau DPR semata, melainkan harus dilihat dari sudut pandang masyarakat kampung, karena merekalah subjek utama pembangunan,” ucap Alfian.
Ia menambahkan, pihaknya sengaja turun ke kampung untuk mendengarkan langsung aspirasi warga. ”Bisa dikatakan DPR saat ini paling sering turun ke kampung. Apa yang bisa kami bantu akan kami bantu, dan apa yang harus disampaikan ke pemerintah akan kami sampaikan. Kami berharap pertemuan ini dapat mewujudkan harapan kita bersama,” jelasnya.

Berbagai Aspirasi Masyarakat Timika Pantai
Kepala Kampung Timika Pantai, Yulianus, menyampaikan beberapa usulan utama yakni penanganan jaringan PLN untuk perumahan warga, pembangunan jembatan penghubung menuju sekolah dan gereja, serta pembangunan balai kampung. Seluruh usulan tersebut sudah disusun secara tertulis dan akan diserahkan kepada Komisi I.
Ibu Mantri Yuli Basaran menyampaikan aspirasi terkait penerangan listrik untuk keperluan darurat pasien. Ia menyebut pemerintah telah mencanangkan penggunaan solar sel namun belum maksimal. Selain itu warga masih mengandalkan air hujan sehingga dibutuhkan bak penampungan air hujan lengkap filter penyaring air bersih, peningkatan sarana kesehatan, serta penanganan stunting.
Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Amiruddin M menyampaikan usulan pengadaan speed boat untuk rujukan pasien. Ia juga mengeluhkan gedung Pustu yang dibangun terlalu rendah sehingga tergenang air pasang, selain itu kekurangan pasokan listrik, ketersediaan obat‑obatan, air bersih, serta keterbatasan tempat tinggal petugas kesehatan menjadi kendala.

Perwakilan Sekolah YPPK menyampaikan jembatan yang sudah direncanakan dibangun tahun 2025 seharusnya terealisasi tahun 2026. Tanpa jembatan anak‑anak hanya bisa bersekolah 1‑2 hari saja. Selain itu dibutuhkan perbaikan perumahan guru, rumah yang dibangun periode bupati lama Alm.Klemen Tinal karena kondisi rumah dinas sudah tidak layak huni.
Tokoh Masyarakat Antonius Taoaniu menyampaikan keluhan warga merasa diabaikan. ”Jangan katakan Papua Terang seolah‑olah hanya janji, kami bukan anak tiri,” ucapnya. Ia meminta seluruh kampung segera dialiri listrik PLN, perbaikan perumahan warga, serta pembangunan talud untuk melindungi pelabuhan dari abrasi.
Mama Olin mewakili kelompok ibu‑ibu menyampaikan keinginan para ibu mendapatkan pelatihan keterampilan menyulam dan menjahit.
Perwakilan Tokoh Gereja mengusulkan bantuan perumahan jemaat, perlengkapan gereja berupa gorden, genset, serta perlengkapan altar.
Perwakilan Tokoh Pemuda mengusulkan penghapusan kata ”Pantai” dari nama Timika Pantai, serta keluhan pihak pemuda tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan pembinaan. Selain itu dia memohon bantuan rehab gedung gereja dan alat musik gereja.

Tanggapan Pimpinan DPRK dan Anggota Komisi I
Ketua DPRK Primus Natikapereyau menanggapi aspirasi jembatan dan menyatakan akan menjadikan hal tersebut catatan prioritas. ”Saya akan berupaya agar rencana pembangunan jembatan berjalan lancar. Untuk bidang pendidikan seharusnya tidak ada kendala karena anggaran pendidikan cukup besar. Terkait Pustu yang tergenang air, ketinggian gedung harus ditingkatkan,” tegas Primus.
Ketua Komisi I Alfian Akbar kembali menegaskan pembangunan harus berpusat pada masyarakat. ”Masyarakat paling tahu kebutuhan di wilayahnya. Terkait persoalan Pustu, nanti Kepala Distrik berkoordinasi dengan Kepala Pustu untuk menentukan apakah gedung akan ditinggikan atau direlokasi sehingga masalah selesai secara menyeluruh,” jelas Alfian. Menanggapi pemuda, ia menjelaskan pembinaan olahraga berada di bawah KONI dan pemerintah sudah melantik KONI tingkat distrik dengan Kepala Distrik sebagai ketua.
Anggota Komisi I Anton Alom menyatakan seluruh aspirasi akan diperjuangkan. ”Permasalahan dari wilayah pegunungan sampai pesisir sama‑sama penting. Kita harus memprioritaskan perumahan layak huni bagi masyarakat di kampung‑kampung,” ujar Anton Alom.
Anggota Komisi I Iwan Anwar menjelaskan mekanisme penganggaran APBD. ”Usulan bisa masuk melalui dua jalur yaitu Musrenbang dan Pokok‑pokok Pikiran (Pokir) Dewan. Kita akan menyusun skala prioritas. Kebutuhan air bersih adalah kewajiban negara untuk dipenuhi, begitu juga kebutuhan petugas keamanan,” jelas Iwan Anwar.
Anggota Komisi I Yanengga menyampaikan optimisme. ”Kami berharap pada tahun 2027 sudah ada kemajuan nyata. Kami optimis visi misi Bupati yaitu pembangunan dari kampung ke kota benar‑benar terwujud dan membawa harapan baru bagi masyarakat Timika Pantai,” tutup Yanengga. (don)

