MIMIKA,(timikabisnis.com) – Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Nancy Natalia Raweyai, menyoroti kebutuhan pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi anak-anak pengungsi korban konflik di sejumlah wilayah Papua yang kini berada di Kabupaten Mimika.
Ia mengajak komunitas lokal, relawan, dan tenaga kesehatan untuk berkolaborasi dalam memberikan dukungan nyata bagi para pengungsi, khususnya perempuan dan anak-anak.
Ajakan tersebut disampaikan Srikandi partai NasDem,Nancy Raweay saat melaksanakan reses tahap III Tahun 2026 dengan mengunjungi pos pengungsi di Jalan Anggrek, Kelurahan Sempan, Timika, Selasa (20/10/2026).
Dalam kunjungan itu, Nancy melihat pentingnya keterlibatan berbagai pihak untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Menurutnya, pendidikan dan kesehatan merupakan aspek penting yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi anak-anak yang berada dalam situasi pengungsian.
Nancy mendorong komunitas lokal untuk menghadirkan kegiatan pendidikan yang kreatif dan menyenangkan agar anak-anak pengungsi tetap memiliki kesempatan belajar di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Salah satu komunitas yang menyatakan kesiapan untuk terlibat adalah Akarasa, komunitas relawan yang digerakkan oleh generasi Z dengan fokus pada kreativitas, berbagi pengetahuan, dan membangun kepedulian sosial.
Founder Akarasa, Ringga Surya, bersama anggota komunitas, Wandah dan Angga, menyatakan komitmen untuk mengambil bagian dalam upaya membantu anak-anak pengungsi di Mimika.
“Kami percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berkontribusi, sekecil apa pun kontribusinya,” ujar Ringga.
Selain pendidikan, Nancy juga menaruh perhatian pada kebutuhan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak-anak pengungsi. Untuk mendukung upaya tersebut, ia telah menjalin komunikasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika, guna mendorong keterlibatan tenaga medis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi.
Nancy menilai, kepedulian terhadap kondisi para pengungsi sebenarnya telah tumbuh di berbagai kalangan. Namun, diperlukan koordinasi yang lebih baik agar berbagai inisiatif dan bantuan dapat berjalan secara terpadu serta memberikan dampak yang lebih nyata.
“Banyak yang punya hati dan keinginan yang sama. Hanya saja, gerakannya masih sangat parsial, sehingga dampaknya tidak terlalu nyata,” tuturnya.
Karena itu, Nancy mengajak masyarakat untuk berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing, baik melalui dukungan moril, donasi, maupun keterlibatan langsung sebagai relawan pengajar.
Ia berharap kolaborasi antara komunitas, relawan, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas dapat membantu menjawab kebutuhan anak-anak pengungsi, terutama dalam memperoleh akses pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai selama berada di Mimika.
“Melalui gerakan kemanusiaan yang terkoordinasi, berbagai pihak diharapkan dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing sehingga dukungan yang diberikan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan,”ungkapnya.(Liddya Bahy)

