MIMIKA,(timikabisnis.com) – Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Tanah Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong diaspora Flobamora di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menggalang bantuan kemanusiaan.
Aksi solidaritas tersebut dilakukan melalui Panitia Peduli Gempa Flores–NTT Kabupaten Mimika, dengan mengajak masyarakat dan umat untuk turut memberikan bantuan secara sukarela bagi saudara-saudari yang terdampak bencana.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan pada rumah warga, fasilitas umum, fasilitas pendidikan, tempat ibadah, dan sejumlah bangunan lainnya.
Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu pukul 18.48 WIB, sebanyak 47 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara belasan lainnya mengalami luka-luka.
Korban meninggal dunia tersebar di sejumlah wilayah, yakni Kabupaten Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, dan Manggarai Barat. Jumlah korban maupun kerusakan diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pendataan dan penanganan di lapangan.
Melihat kondisi tersebut, Panitia Peduli Gempa Flores-NTT Kabupaten Mimika berinisiatif menghimpun bantuan untuk meringankan beban masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.
Ketua Umum Ikatan Keluarga Flobamora (IKF) Mimika, Gabriel Zezo, mengatakan penggalangan dana merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas masyarakat Flobamora di Mimika terhadap saudara-saudari yang mengalami korban bencana alam di tanah Flores- NTT.
“Kami mengajak seluruh warga dan umat untuk bersama-sama memberikan dukungan kepada saudara-saudari kami yang terdampak gempa. Bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi mereka,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Paniti Peduli Gempa Flores – NTT Kabupaten Mimika, Paul Weti, mengatakan panitia telah menyampaikan permohonan kepada sejumlah paroki di Kabupaten Mimika agar informasi penggalangan dana dapat disampaikan kepada umat setelah Perayaan Ekaristi pada Minggu (16/8/2026).
Empat paroki yang menjadi bagian dari penyampaian aksi penggalangan dana tersebut yakni Paroki Katedral Tiga Raja, Paroki Santa Cecilia SP2, Paroki Santo Stefanus Sempan, dan Paroki Santo Petrus Karangsenang SP3.
Umat yang ingin berpartisipasi dapat menyalurkan donasi secara sukarela melalui kotak amal yang disediakan panitia di tempat-tempat yang telah ditentukan.
Paul, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian IKF Mimika, berharap aksi solidaritas tersebut dapat menggerakkan berbagai kalangan untuk bersama-sama membantu masyarakat Flores yang terdampak bencana.
Menurutnya, kepedulian terhadap korban bencana bukan hanya diwujudkan melalui bantuan material, tetapi juga menjadi bentuk nyata kasih, persaudaraan, dan solidaritas antarsesama.
“Semoga melalui aksi ini kita dapat meringankan beban saudara-saudari kita di Flores dan menunjukkan bahwa dalam menghadapi bencana, kita tidak berjalan sendiri,” ungkap Paul.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada para pastor paroki,umat dan warga yang bersedia mendukung serta menyebarluaskan gerakan kemanusiaan tersebut.
Kepedulian terhadap musibah yang melanda Tanah Flores-NTT tidak hanya datang dari warga Flobamora. Solidaritas juga tumbuh dari saudara dan saudari dari berbagai latar belakang yang turut merasakan duka dan keprihatinan atas bencana alam tersebut.
Dukungan itu tidak selalu hadir dalam bentuk bantuan materi. Doa, perhatian, ungkapan kepedulian, serta dukungan moral juga menjadi bagian penting dari kekuatan bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
Di tengah situasi penuh duka, doa dari berbagai kalangan menjadi bentuk persaudaraan yang tidak mengenal batas suku, agama maupun daerah.
Setiap doa menjadi harapan agar para korban yang meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, mereka yang terluka diberikan kesembuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.
Bagi masyarakat yang terdampak, kepedulian sekecil apa pun memiliki arti besar. Baik melalui doa, dukungan moral maupun bantuan kemanusiaan, semuanya menjadi wujud nyata bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana ini.
Solidaritas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan dapat menyatukan siapa saja. Ketika sebuah daerah dilanda bencana, duka tidak lagi menjadi milik satu kelompok, melainkan menjadi keprihatinan bersama sebagai sesama manusia dan sesama anak bangsa.
Selain melalui paroki, panitia juga berencana melakukan penggalangan dana di sejumlah titik lampu merah di Kota Timika.
Namun, kegiatan tersebut baru akan dilaksanakan setelah panitia memperoleh izin resmi dari Pemerintah Kabupaten Mimika melalui dinas terkait.
Panitia berharap aksi solidaritas ini dapat menjadi gerakan bersama masyarakat Mimika, khususnya diaspora Flobamora, sekaligus membuka ruang bagi siapa pun yang ingin mengambil bagian dalam membantu masyarakat Flores yang tengah berjuang menghadapi dampak bencana dan memulihkan kehidupan mereka.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) menyebabkan 47 orang meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka.
Jumlah tersebut merupakan data sementara BNPB hingga pukul 18.48 WIB, Sabtu,(15/8). Para korban meninggal dunia tercatat berada di Kabupaten Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, dan Manggarai Barat.
Sementara itu, data sementara BNPB pada Sabtu pukul 17.00 WIB mencatat sebanyak 157 rumah rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum, meliputi 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, enam kantor, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.
Jumlah korban dan kerusakan tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Di tengah duka yang melanda Tanah Flores – NTT, diaspora Flobamora di Mimika memilih untuk tidak berdiam diri. Dari tanah Papua, mereka mengirimkan sepenggal cinta, kepedulian, doa, dan persaudaraan bagi saudara-saudari di tanah kelahiran yang sedang berduka.
Namun, pesan kemanusiaan ini bukan hanya milik Flobamora. Doa dan kepedulian dari saudara-saudari dari berbagai daerah dan latar belakang menjadi kekuatan bersama bagi masyarakat yang terdampak.
Bencana alam memang meninggalkan luka dan kehilangan. Tetapi dari tengah duka itu, selalu ada tangan-tangan yang terulur, doa-doa yang dipanjatkan, serta hati-hati yang tergerak untuk membantu.
Setiap doa, kepedulian, dan bantuan yang diberikan menjadi kekuatan bagi para korban dan keluarga yang terdampak untuk bangkit, memulihkan kehidupan, dan menatap hari esok dengan penuh harapan.(Anis Batalotak)

