Lawan Malaria dari Hulu, Dinkes Mimika Genjot 2 Juta Pemeriksaan Sepanjang 2026

MIMIKA,(timikabisnis.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika terus memperkuat upaya pengendalian malaria dengan meningkatkan cakupan pemeriksaan secara masif sepanjang tahun 2026.

Melalui berbagai strategi percepatan deteksi dini, Dinkes menargetkan dua juta pemeriksaan malaria guna menekan angka penularan penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan utama di wilayah tersebut.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin, mengatakan target tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah itu diambil sebagai bagian dari upaya mempercepat penemuan kasus dan mencegah penyebaran malaria di masyarakat.

Menurut Kamaludin, capaian pemeriksaan malaria pada tahun 2025 berhasil melampaui target yang ditetapkan. Sepanjang tahun lalu, Dinkes Mimika melakukan 1.299.815 pemeriksaan dan menemukan 190.597 kasus malaria dengan positivity rate sebesar 14,07 persen.

Sementara itu, hingga Mei 2026, jumlah pemeriksaan yang telah dilakukan mencapai 450.193. Dari jumlah tersebut ditemukan 61.735 kasus malaria dengan positivity rate sebesar 13,7 persen.

Untuk mengejar target dua juta pemeriksaan tahun ini, Dinkes Mimika menjalankan program percepatan testing di 10 puskesmas yang berada di wilayah perkotaan. Salah satu puskesmas yang menjadi fokus adalah Puskesmas Timika yang setiap hari mengerahkan 50 tim lapangan untuk melakukan pemeriksaan langsung kepada masyarakat.

Setiap tim ditargetkan melakukan 100 tes per hari. Dengan seluruh tim bergerak secara maksimal, sekitar 5.000 warga dapat diperiksa setiap harinya.

“Mereka akan bekerja selama tujuh hari, maksimal 14 hari dalam sebulan. Kalau untuk Puskesmas Timika, targetnya sekitar 35 ribu pemeriksaan per bulan. Begitu juga dengan puskesmas lainnya. Tahun ini kami diberikan target dua juta pemeriksaan,” kata Kamaludin saat ditemui, Jumat (12/6/2026).

Selain mengoptimalkan layanan di puskesmas, Dinkes Mimika juga menginstruksikan seluruh puskesmas pembantu (Pustu) untuk lebih aktif melakukan pemeriksaan malaria di kampung-kampung yang menjadi wilayah kerjanya.

Pemeriksaan massal secara berkala setiap dua minggu juga terus digencarkan untuk mempercepat penemuan kasus, terutama pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terpapar malaria.

Menurut Kamaludin, strategi tersebut merupakan bentuk penanganan dari hulu dengan mengutamakan deteksi dini sehingga pasien dapat segera mendapatkan pengobatan dan tidak menjadi sumber penularan di lingkungan sekitarnya.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, Dinkes Mimika mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam menurunkan angka malaria. Faktor lingkungan dan kondisi geografis menjadi salah satu penyebab utama tingginya risiko penularan.

Curah hujan yang tinggi serta kontur wilayah yang relatif datar menyebabkan banyak genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles sebagai vektor penyebab malaria.

Selain itu, perilaku masyarakat juga dinilai turut memengaruhi tingginya angka penularan. Masih banyak warga yang beraktivitas pada malam hari tanpa perlindungan yang memadai, seperti mengenakan pakaian lengan panjang atau menggunakan kelambu saat tidur.

Kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi obat malaria hingga tuntas juga masih menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan dan pencegahan penularan kembali.

Kamaludin menegaskan bahwa pengendalian malaria tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Diperlukan dukungan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat agar upaya yang dilakukan pemerintah dapat memberikan hasil yang optimal.

“Kalau dari sisi kesehatan kami sudah mempercepat pemeriksaan, tetapi jika nyamuk penular masih banyak dan masyarakat belum menerapkan langkah pencegahan, maka penanganannya tidak akan optimal. Karena itu, semua sektor harus bergerak bersama dan masyarakat juga harus proaktif,” pungkasnya. (Liddya Bahy)

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *