MIMIKA,(timikabisnis.com) – Sebanyak 272 usulan pembangunan dari masyarakat “meledak” dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Distrik Mimika Baru untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Mimika Tahun 2026 yang digelar di Ballroom Hotel Kanguru, Timika, Kamis (5/3/2026).
Ratusan usulan tersebut mencerminkan berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah layak huni, infrastruktur pelayanan kelurahan, drainase, hingga tingginya kasus malaria di sejumlah wilayah.
Mewakili Bupati Mimika, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Ananias Faot, mengatakan Musrenbang distrik merupakan tahapan penting dalam proses perencanaan pembangunan daerah yang dilaksanakan secara partisipatif, transparan, dan akuntabel.
Menurutnya, forum tersebut menjadi wadah strategis bagi pemerintah untuk menyerap langsung aspirasi masyarakat dari tingkat kampung hingga kelurahan.
“Musrenbang Distrik merupakan wadah strategis untuk menyerap aspirasi masyarakat. Melalui forum ini kita memastikan setiap program pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat di Distrik Mimika Baru,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Musrenbang tidak sekadar membahas rencana pembangunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan pembangunan yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan.
“Musrenbang ini bukan hanya tentang rencana pembangunan, tetapi juga tentang komitmen bersama dalam mewujudkan pemerataan pembangunan yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Distrik Mimika Baru, Joel Daniel Luhukay, menjelaskan bahwa 272 usulan aspirasi masyarakat tersebut berasal dari 11 kelurahan dan 3 kampung yang ada di wilayah Distrik Mimika Baru.
Ia mengatakan seluruh aspirasi tersebut telah melalui proses musyawarah di tingkat kelurahan dan kampung serta dilakukan verifikasi agar benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Sebanyak 272 aspirasi sudah kami tampung dari 11 kelurahan dan 3 kampung. Semua usulan ini telah didiskusikan dan diverifikasi untuk selanjutnya dibawa ke Musrenbang Kabupaten Mimika,” jelasnya.
Joel menyebutkan dari ratusan usulan tersebut terdapat beberapa persoalan yang menjadi prioritas utama masyarakat, salah satunya terkait ketersediaan rumah layak huni.
Menurutnya, di sejumlah wilayah masih terdapat warga yang tinggal di rumah yang kondisinya tidak layak.
“Kami meminta perhatian dari Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan karena masih ada masyarakat yang tinggal di rumah yang tidak layak huni,” ungkapnya.
Selain persoalan permukiman, kondisi infrastruktur kantor kelurahan juga menjadi perhatian karena dinilai belum memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Masih ada beberapa kantor kelurahan yang kondisinya belum memadai untuk melayani masyarakat. Karena itu kami sudah menyurati Kepala Dinas PUPR agar hal ini bisa menjadi perhatian dalam program pembangunan,” ujarnya.
Permasalahan drainase dan pendangkalan kali juga menjadi sorotan karena kerap menyebabkan genangan air hingga banjir di sejumlah wilayah di Kota Timika.
“Kami juga mengusulkan pembangunan drainase serta pengerukan kali-kali yang sudah dangkal karena sering terjadi genangan air bahkan banjir di beberapa wilayah,” katanya.
Di sektor kesehatan, pemerintah distrik juga menemukan tingginya kasus malaria setelah melakukan pemantauan langsung ke sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Mimika Baru.
“Kami turun langsung memantau ke puskesmas dan masih banyak ditemukan kasus malaria. Karena itu kami berharap ada kolaborasi antara dinas terkait untuk bersama-sama mengatasi persoalan kesehatan masyarakat ini,” jelasnya.
Joel menegaskan bahwa seluruh aspirasi masyarakat yang telah dihimpun dan diverifikasi tersebut selanjutnya akan dibawa ke Musrenbang tingkat Kabupaten Mimika untuk dibahas lebih lanjut dalam program pembangunan daerah.
“Aspirasi masyarakat sudah kami tampung dan diverifikasi. Selanjutnya akan kami bawa ke Musrenbang Kabupaten Mimika agar dapat menjadi bagian dari program pembangunan daerah,” pungkasnya.(Liddya Bahy)

