Tinjau Kios Kelontong Binaan, YPMAK Dorong Lahirnya Pelaku Usaha Unggul OAP

MIMIKA, (timikabisnis.com)- Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PTFI melakukan peninjauan ke beberapa UMKM Kios Kelontong binaanya, Jumat (13/2/2026).

Peninjauan ini dilakukan di beberapa kios diantaranya kios Amungin Mart yang terletak di Kwamki Narama, kios Julia Mart yang terletak di mile 32 dan kios Kenemo Mandiri Jaya Mart yang terletak di mile 23.

Masing-masing kios ini dikelola oleh Yufiania Beanal (Amungin Mart), Marike Magai (Julia Mart) dan Julita Omaleng (Kenemo Mandiri Jaya Mart).

Program pemberdayaan UMKM yang dijalankan YPMAK ini pun terus berkembang.Sebelumnya bermitra dengan Bank BRI, kini YPMAK bekerja sama dengan Bank BTN untuk memperluas dukungan bagi pelaku usaha asli Papua, khususnya Amungme dan Kamoro.

Deputi Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Billy Enerson Korwa menjelaskan bahwa program ini merupakan inisiasi pengurus baru untuk mendorong lahirnya pelaku-pelaku usaha unggul dari masyarakat lokal.

“Program UMKM ini sebenarnya sudah berjalan sebelumnya bersama Bank BRI. Dalam perjalanannya, ada beberapa hal yang perlu diperluas. Kini bersama BTN, kita mulai lagi dengan 20 pelaku usaha kios kelontong,” ucap Bily.

Program tahap awal difokuskan pada 20 kios kelontong. Menurut Bily langkah ini sengaja dimulai dari skala kecil agar masyarakat benar-benar siap secara mental dan manajerial.

“Kita mulai dari hal kecil. Masyarakat perlu disiapkan dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Sebelum kios ini berjalan, mama-mama dan pelaku usaha sudah dilatih bagaimana mengelola manajemen usaha, mencatat keuangan dengan baik, dan menggunakan aplikasi yang sederhana tapi modern,” jelasnya.

Aplikasi tersebut dirancang adaptif agar mudah dioperasikan oleh UMKM binaan.

Tak hanya pelatihan, program ini juga menekankan pendampingan intensif. YPMAK menggandeng mitra, termasuk BTN dan perguruan tinggi, untuk memastikan pelaku usaha tidak berjalan sendiri.

“Pendampingan itu kunci. Kalau tanpa pendampingan, jangan berharap usaha bisa berkembang dengan baik. Bukan berarti masyarakat tidak mampu, tetapi di tahap awal mereka memang harus dibantu,” tegasnya.

Dalam tahap pendampingan, YPMAK menggandeng Institut Jembatan Bulan (IJB) yang sebelumnya dikenal sebagai STIE JB. Akademisi dilibatkan untuk melakukan kajian ekonomi dan memberikan masukan berbasis penelitian guna memperbaiki sistem pendampingan dan monitoring evaluasi (monev).

“ Jadi kita libatkan adik-adik dari IJB untuk melakukan pendampingan kepada semua kios UMKM binaan kita. Juga masukan yang berbasis pengetahuan untuk membantu kita memperbaiki program agar lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Dari total 20 kios yang direncanakan, saat ini di wilayah Amungme telah terealisasi 8 kios, dengan 2 lainnya dalam proses penyelesaian infrastruktur dan pengisian barang. Wilayah Kamoro juga menunjukkan progres serupa.

YPMAK menargetkan seluruh kios sudah beroperasi paling cepat akhir Februari atau paling lambat awal Maret tahun ini.

“Kami berharap semua kios sudah selesai dan beroperasi sesuai jadwal,” kata Billy.

Selain kios kelontong, YPMAK juga menyiapkan sejumlah usaha lain seperti laundry, rumah sagu, produksi tepung sagu, hingga cuci motor dan usaha kopi.

“Kopi dan sagu akan menjadi salah satu primadona kita. Semua masih dalam proses persiapan. Mudah-mudahan tahun ini bisa terealisasi sesuai rencana,” ujarnya.

Dalam program ini, YPMAK menerapkan pendekatan mikro dan makro. Pelaku usaha yang masih berada di tahap mikro akan dibina secara bertahap, sementara yang sudah siap akan didorong naik kelas ke skala usaha yang lebih besar.

Ia mencontohkan, pada program sebelumnya bersama Bank BRI, terdapat pelaku usaha yang mendapatkan modal hingga Rp700 juta dan hingga kini masih rutin menyetor angsuran ke bank.

“Itu menjadi ukuran bahwa Orang Asli Papua di sekitar wilayah operasi tambang PT Freeport Indonesia juga mampu mengelola usaha besar. Kita tidak boleh underestimate. Ada perubahan yang nyata,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa usaha yang dikelola Orang Asli Papua tidak akan bertahan lama.

“Dulu orang bilang, dikelola OAP pasti satu dua hari tutup. Tapi hari ini kita lihat ada perubahan,” katanya.

Sementara salah seorang pemilik kios binaan YPMAK yang berada di wilayah mile 32, Marike Magai mengaku bersyukur atas dukungan bantuan dari PTFI melalui YPMAK.

” Saya sangat bersyukur atas bantuan YPMAK ini. Dulu saya hanya di rumah kadang kerja di kebun, sekarang dengan adanya kios ini saya bisa berjualan disini,” ucapnya.

Dari penjualan yang ada, Marike mengaku sehari bisa mendapatkan 400 ribu bahkan lebih.

Direktut PT. Angkasa Cahaya Gemilang yang merupakan mitra kerja sama YPMAK, Teopilus Karubuy, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya menyediakan barang dagangan bagi para pelaku usaha binaan, tetapi juga mendorong mereka untuk yyy mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Teopilus, para pelaku usaha tidak sebatas menjual produk yang disuplai untuk kios. Namun mereka juga diarahkan agar memiliki tambahan usaha lain. Hal ini dilakukan agar para pelaku usaha memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menciptakan peluang usaha di wilayahnya masing-masing.

“Yang diberikan YPMAK saat ini sifatnya standar. Namun yang terpenting adalah membentuk jiwa wirausaha mereka agar tidak hanya bergantung pada satu jenis usaha, namun bisa memperluas jaringan pemasaran bahkan hingga ke pedalaman, dan juga di kampung masing-masing ,” ujarnya.

Dikatakannya, sebelum UMKM kios kelontong ini berjalan, para pelaku usaha telah diberikan pendampingan terlebih dahulu yang berlangsung selama 12 bulan. Sehingga ia berharap melalui pendampingan tersebut para pelaku usaha semakin memahami cara berjualan yang baik dan mampu mengembangkan usahanya pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami tidak hanya mengajarkan mereka untuk berjualan di kios, tetapi bagaimana bisa berkembang ke mana-mana. Jika ke depan masih membutuhkan pendampingan, kami siap mendukung,” tutupnya.

Dengan sinergi antara YPMAK, perbankan, dan perguruan tinggi, diharapkan UMKM Orang Asli Papua tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu naik kelas dan menjadi pilar ekonomi yang kuat di tanah sendiri. (Lyddia Bahy).

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *