MIMIKA,(timikabisnis.com) — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terus mendorong penguatan ketahanan pangan daerah melalui pengembangan komoditas cabai rawit yang dikelola petani Orang Asli Papua (OAP).
Program ini bertujuan meningkatkan produksi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanbun), Pemkab Mimika pada tahun 2025 membina tiga kelompok tani OAP yang dinilai memiliki potensi dalam budidaya cabai rawit.
Ketiga kelompok tersebut berada di wilayah Lopong, SP 3, dan Belakang Bandara.
Kepala Distanbun Mimika, Alice Irene Wanama, mengatakan pembinaan dilakukan dengan dukungan bantuan stimulan yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus) pada sektor hortikultura.
“Setiap kelompok tani mendapatkan bantuan sebesar Rp27 juta untuk membantu pengolahan lahan seluas satu hektar. Penyaluran bantuan dilakukan bertahap sesuai dengan perkembangan luas lahan yang berhasil mereka kerjakan,” ujarnya, Minggu (16/3/2026).
Selain bantuan dana, pemerintah juga menyalurkan berbagai sarana produksi pertanian, seperti bibit cabai rawit, pupuk, handsprayer, tali ajir, dolomit, dan herbisida. Distanbun juga memberikan pendampingan teknis dengan melibatkan petani berpengalaman untuk mendukung keberhasilan budidaya.
Alice mengakui pada awalnya sebagian petani OAP dinilai kurang telaten dalam mengelola tanaman cabai. Namun, perkembangan kelompok tani binaan menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
“Kami sempat bertanya langsung kepada petani di SP 3, mereka sudah dua kali panen dan berhasil memperoleh keuntungan sekitar Rp10 juta. Ini menjadi contoh yang baik bagi petani OAP lainnya,” katanya.
Ia berharap produksi cabai rawit dari petani lokal dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Mimika sehingga daerah tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Pemkab menargetkan swasembada cabai rawit sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Koteka Mandiri, Natalis Walilo, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah melalui program pembinaan tersebut.
Kelompoknya yang beranggotakan 12 orang mulai merasakan manfaat dari budidaya cabai rawit, meski masih menghadapi kendala permodalan.
“Bantuan Rp27 juta sangat membantu kami untuk memulai. Namun masih ada kekurangan sekitar Rp20 juta, sehingga kami menggunakan dana pribadi untuk menutupinya,” ujarnya.
Natalis menjelaskan, budidaya cabai rawit cukup menjanjikan karena dapat dipanen secara berkala. Dalam satu kali panen yang berlangsung sekitar 55 hari, kelompoknya mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram cabai. Jika dirawat dengan baik, tanaman cabai dapat bertahan hingga dua tahun.
Meski demikian, ia mengakui tanaman cabai cukup sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama saat musim hujan, sehingga membutuhkan perawatan rutin.
Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan, baik dari sisi permodalan maupun pendampingan, agar petani OAP semakin percaya diri dalam mengembangkan usaha pertanian.
“Kami ingin membuktikan bahwa orang Papua juga mampu berhasil di bidang pertanian,” pungkasnya.(Liddya Bahy)

