MIMIKA,(timikabisnis.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) menyiapkan empat kampung dan,atau kelurahan sebagai model percepatan penurunan dan pencegahan stunting di Kabupaten Mimika.
Keempat wilayah tersebut yakni Kelurahan Koprapoka, Kampung Tipuka, Kampung Ayuka, dan Kampung Atuka. Penyiapan kampung model ini menjadi bagian dari penguatan upaya penanganan stunting berbasis kampung.
Langkah tersebut dibahas dalam Workshop Sosialisasi Kampung Percontohan dalam Upaya Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting yang digelar di Hotel Swiss-Belinn Timika, Jumat (25/9/2026).
Senior Program Manager Project PASTI Papua, Christine Julia Sagala, mengatakan penetapan empat wilayah tersebut merupakan hasil dari proses pendampingan yang telah dilakukan sejak 2024 terhadap 11 kampung dan kelurahan di Kabupaten Mimika.
Menurut Christine, pendampingan tersebut mencakup pemetaan potensi dan penguatan kapasitas di masing-masing wilayah. Dari proses tersebut, empat wilayah dinilai memiliki kesiapan untuk didorong menjadi kampung model.
“Untuk mendukung visi dan misi Bapak Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mimika, diperlukan percepatan penurunan stunting yang akurat dan dimulai dari kampung,” ujar Christine.
Ia menjelaskan, pengembangan kampung model akan mengacu pada sejumlah indikator, di antaranya keterbukaan data, penguatan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), optimalisasi posyandu, intervensi gizi spesifik, serta penguatan fungsi TPPS di tingkat kampung dan kelurahan.
Christine menilai posyandu memiliki peran penting dalam upaya pencegahan stunting, terutama melalui kegiatan penimbangan dan pengukuran pertumbuhan anak secara tepat.
“Posyandu merupakan salah satu pintu gerbang untuk pencegahan stunting melalui penimbangan dan pengukuran yang tepat. Karena itu, layanan posyandu harus aktif dan mampu menjadi pusat promosi kesehatan di masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, percepatan penurunan stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, distrik, kampung, fasilitas kesehatan, keluarga, masyarakat, dunia usaha, mitra pembangunan, serta pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Mimika, Shanty Sondang, mengatakan kesiapan kampung model harus dilihat secara menyeluruh.
“Kesiapan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari aspek administrasi, tetapi juga dari kesiapan kelembagaan, layanan, kader, data, mekanisme rujukan, dan keterlibatan masyarakat,” tegasnya.
Shanty mendorong penguatan koordinasi lintas sektor sehingga program pencegahan dan penurunan stunting dapat berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan hingga tingkat kampung.
“Kita perlu memastikan adanya dukungan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing, memperkuat peran posyandu, memastikan mekanisme perlindungan sosial bagi keluarga yang membutuhkan, serta mengintegrasikan berbagai upaya perbaikan di masyarakat,” ujarnya.
Workshop tersebut juga menjadi forum untuk menyamakan persepsi mengenai kesiapan kampung model, mengevaluasi pencapaian target, sekaligus mempersiapkan deklarasi kampung model pencegahan dan percepatan penurunan stunting.
Selain Pemkab Mimika dan WVI, kegiatan tersebut turut melibatkan perwakilan dari Kabupaten Asmat dan Kabupaten Nabire. Keterlibatan lintas kabupaten tersebut diharapkan dapat menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik dalam upaya pencegahan serta penurunan stunting berbasis kampung.
Dengan disiapkannya empat wilayah tersebut sebagai kampung model, penguatan data, pelayanan posyandu, pendampingan keluarga berisiko stunting, intervensi gizi, dan partisipasi masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih terpadu.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan kolaborasi berbagai pihak untuk mendukung terwujudnya masyarakat Mimika yang sehat, maju, mandiri, sejahtera, aman, dan damai.(Liddya Bahy)

