Tidak Bangun Smelter di Mimika, Alasan Freeport Yang Tidak Masuk Akal

Anggota DPRD Mimika dari Komisi C, Amandus Gwijangge,S.Sos/Foto ; husyen opa

 TIMIKA, (timikabisnis.com) – Pernyataan resmi dari pihak manajemen PT Freeport Indonesia (PT FI) yang belum memutuskan untuk membangun Smelter di Mimika-Papua karena beberapa alasan seperti daya listrik, belum adanya pabrik pupuk dan Pabrik Semen, hanya alasan yang tidak masuk akal.

Hal tersebut ditegaskan oleh anggota DPRD Mimika dari Komisi C, Amandus Gwijangge,S.Sos  kepada wartawan , Kamis (8/4) menanggapi adanya pernyataan resmi dari  Juru Bicara (Jubir) PT Freeport Indonesia, Riza Pratama dalam diskusi acara diskusi ringan bersama pimpinan awak media di Hotel Cenderawasih 66, Senin (5/4) lalu.

“Mengambil hasil kekayaan tambang di Mimika tapi pengelolaan konsentratnya di tempat lain, ini sangat membingunkan. Saya kira ini hanya alasan dari manajemen Freeport yang tidak masuk akal, yang seharusnya menjadi tanggungjawab Freeport untuk membangun smelter di Mimika. Hasil tambangnya di Mimika, dampak dirasakan langsung oleh masyarakat Mimika, kerusakan dan kehancuran terjadi di Mimika akibat Freeport. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah pusat agar Smelter di bangun di Mimika bukan diluar Papua,”tegas Amandus Gwijangge.

Karena itu, menurut Amandus langkah dan solusi yang harus dilakukan Pemerintah dan Freeport adalah mendorong agar Smelter harus dibangun di Mimika. Karena dengan membangun Smelter di Mimika diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang asli Papua lebih khusus anak anak Mimika.

“Freeport hanya membuang limbah tailing ke laut yang banyak menimbulkan dampak keresahan dan kesusahan bagi masyarakat Mimika, kita bisa melihat dengan kasak mata bahwa pendangkalan di laut terus terjadi bahkan membuat masyarakat hidup di pesisir terancam. Kemudian  biota laut hancur, kekayaan alam hancur, ini sangat memalukan,”keluh Amandus.

Amandus Gwijangge yang merupakan anggota DPRD Mimika dari Dapil 6 mengakui, dampak pendangkalan akibat endapan tailing di pesisir dirinya juga turut merasakan dan seluruh masyarakat pesisir yang melalui sungai sungai.

“Freeport sebagai perusahaan tambang terbesar di dunia harusnya memikirkan hal ini sehingga dampanya tidak merugikan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam. Dampak dari kerusakan kerusakan itu harusnya Freeport memikirkan untuk bangun smeleter di Papua sebagai salah satu solusi dalam menanggulangi limbah yang dihasilkan serta membuka lapangan pekerjaan di kabupaten Mimika,”katanya.

Terkait alasan kebutuhan daya listrik yang sangat tinggi dalam membangun smelter di Mimika, seharusnya menjadi tanggungjawab Freeport untuk menyediakan daya listrik.

“Tidak masuk akal kalau Freeport tidak membangun smelter di Mimika hanya karena persoalan daya listrik, lalu kenapa perusahaan besar ini bisa ada. Aneh perusahaan besar seperti Freeport kesulitan dalam hal daya listrik. Terkesan itu hanya alasan dan tidak masuk akal, Freeport harus bisa menghasilakn daya listrik tinggi untuk mendukung pembanguan smelter,”keluh Amandus.

Sebelumnya, Juru Bicara (Jubir) PT Freeport Indonesia, Riza Pratama menyampaikan alasan mengapa hingga kini PT Freeport belum memutuskan membangun smelter di wilayah Mimika atau Papua, tapi malah di Gresik dan Halmahera.

Riza mengemukakan, alasan pemilihan Gresik sebagai tempat pembangunan smelter lantaran di wilayah tersebut sudah terdapat pabrik pupuk Petro Kimia dan Pabrik Semen. Dua komponen itu sangat penting untuk mengelola limbah smelter yakni asam sulfat.

Bahwa untuk membangun pabrik yang memanfaatkan limbah smelter juga butuh listrik yang sangat besar, Papua belum mampu. Supaya limbah kita manage sekecil mungkin makanya kita bangun kedua di Gresik dan adanya penawaran untuk di Halmahera. (*opa)

 

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!