Evert Baransano dan Sebuah Mimpi yang Tumbuh dari Pagar Kuning

MIMIKA, (timikabisnis.com)- Sore belum sepenuhnya turun di kawasan Pagar Kuning, jalan raya yang mengitari bandara Freeport, saat anak-anak muda berdatangan dengan pakaian olahraga. Sepatu lari dikencangkan, tubuh dipanaskan, lalu langkah kaki perlahan mengambil ritme.

Jumat hingga Minggu, pemandangan seperti ini cukup mudah dijumpai di Timika. Sebagian datang sendiri, sebagian bersama teman, dan lainnya bergabung dalam komunitas. Ada yang berlari untuk menjaga kebugaran, melepas penat setelah beraktivitas, sekadar berkumpul, atau memang sedang mengejar prestasi.

Bagi mereka, jalanan bukan sekadar tempat kendaraan melintas. Ia telah berubah menjadi ruang untuk berolahraga.

Di kawasan ini, para pelari menikmati sejuknya udara danau sambil menyusuri jalur yang berada di sisi jalan raya. Ruang khusus bagi pejalan kaki dan pelari membuat aktivitas berlari terasa lebih nyaman meski di beberapa titik jalur lari harus mengikuti kelokan jalan di sepanjang pagar.

Di antara para pelari itu, ada Evert Baransano, 26 tahun, atlet yang kini memilih berdiri di sisi jalan sekaligus sebagai pelatih. Dari tempat sederhana itu, Evert membangun El Salvador Runner, sebuah komunitas yang menjadi ruang bagi anak-anak muda Timika untuk mengenal dunia lari lebih jauh. Tidak hanya gemar berlari, tetapi juga berani bermimpi menjadi atlet.

” Saya lihat di Timika banyak anak yang suka lari. Mereka sering olahraga lari di Pagar Kuning. Saya lihat, wah, ini larinya bagus-bagus, sayang kalau tidak dikembangkan, ” kata Evert.

Kecintaannya terhadap lari sendiri bermula pada 2015. Dari Timika, ia berangkat ke Jayapura untuk bersekolah sekaligus menjalani pembinaan di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Papua.

Lari sebenarnya bukan pilihan pertamanya. Ia lebih dahulu menekuni karate. Namun, setelah mencoba atletik, ia menemukan kecintaan yang akhirnya membawanya menekuni nomor 800 hingga 1.500 meter. ” Akhirnya makin cinta, ” ujarnya.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Cedera pada otot tendon membuatnya harus menggunakan tongkat dan berhenti berlatih selama dua tahun, pada 2023 hingga 2024. Masa panjang tanpa lintasan itu sempat memisahkannya dari olahraga yang telah menjadi bagian hidupnya.

Namun, pada 2025, langkahnya kembali menemukan arah. Mahasiswa Pendidikan Jasmani di salah satu perguruan tinggi di Timika itu kembali aktif berlari, tetapi kali ini ia tak lagi sekadar mengejar catatan waktu atau menaklukkan jarak demi dirinya sendiri.

Di sepanjang lintasan, pandangannya perlahan berubah. Di balik langkah-langkah sederhana, ia melihat bakat, semangat, dan kemungkinan untuk tumbuh lebih jauh. Dari sanalah, lari baginya mulai memiliki makna yang lebih besar: bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai garis finis, tetapi tentang bagaimana sebuah langkah kecil dapat membuka jalan menuju masa depan.

Kini lebih dari 30 anak tergabung dalam komunitas yang dibinanya. Mayoritas berusia di bawah 20 tahun. Mereka berlatih sore hari setelah pulang sekolah. Ada yang datang untuk sekadar berolahraga, tetapi ada pula yang mulai diarahkan menuju prestasi.

Evert tidak ingin memaksakan latihan keras. Baginya, anak-anak harus menikmati proses agar tidak kehilangan kecintaan terhadap olahraga.

” Saya belajar bagaimana cara melatih anak-anak ini agar waktunya meningkat, prestasinya meningkat, tapi tidak dengan keras latihannya. Latihan yang santai, tapi baik, ” ucapnya, sembari menunduk dan mengikat tali sepatunya erat-erat, memastikan tak ada simpul yang akan terlepas di tengah langkahnya.

Dari latihan sederhana itu, hasilnya mulai terlihat. Dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Piala Gubernur di Jayapura, dua atlet binaannya berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu perunggu. Evert sendiri meraih dua medali emas.

” Berangkat pakai uang sendiri dan mendapatkan hasil yang baik. Itu luar biasa,” kenangnya.

Prestasi tersebut menjadi penyemangat, sekaligus bukti bahwa bakat dapat tumbuh di tengah keterbatasan. Namun, ada satu persoalan yang belum berubah: fasilitas.

El Salvador masih mengandalkan jalan sebagai tempat latihan. Tidak ada lintasan atletik yang memadai, tribun, maupun perlengkapan latihan yang lengkap.

” Sebagai atlet dan olahraga prestasi, kami butuh fasilitas. Kami sangat menyayangkan karena di Timika tidak ada fasilitas yang baik. Kami cuma latihan di jalan,” ucapnya.

Keterbatasan itu tidak membuat langkah mereka berhenti.

Justru di tengah kondisi tersebut, Evert menyimpan mimpi yang lebih jauh. Ia ingin membawa atlet binaannya mengikuti kejuaraan di luar Papua dan perlahan menembus level nasional. PON 2028 menjadi salah satu target yang ingin ia tuju.

Bagi para anggota, El Salvador Runner bukan sekadar tempat berlari. Komunitas ini menjadi ruang untuk belajar disiplin dan menata hidup.

Salah seorang anggotanya, Jacob Christiano Stoner Liuryaman, 19 tahun, telah menyelesaikan pendidikan SMA setahun lalu, memiliki mimpi menjadi anggota TNI AD sekaligus atlet lari. Sejak bergabung, ia merasakan perubahan dalam dirinya.

” Banyak perubahan yang saya rasakan, dari kedisiplinan saya, bisa mengatur pola makan, pola tidur, dan sebagainya,” katanya usai latihan di halaman Eme Neme Yauware, sebuah area terbuka yang luas tempat orang berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk latihan fisik.

Anggota lainnya, Ade Putra Batara Layuk Sampe, 16 tahun, siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Mimika, menggambarkan Ever sebagai sosok yang tegas, baik, dan tidak membeda-bedakan latar belakang anak didiknya.

” Selagi kita niat, ada pelatihan, tetap dilatih,” ujarnya.

Bagi masyarakat Timika yang gemar berlari, mungkin tidak semua langkah harus berujung pada podium. Ada yang berlari untuk kesehatan, mencari teman, menikmati sore, atau sekadar memberi jeda bagi tubuh dan pikiran setelah menjalani rutinitas.

Tetapi bagi pria kelahiran 2000 ini, beberapa langkah bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

Ia ingin anak-anak yang datang ke jalanan itu suatu hari memiliki kesempatan berlari di lintasan yang lebih baik, mengenakan seragam pertandingan, berdiri di garis start, lalu mengejar prestasi dengan nama Timika dan Papua di belakang mereka.

” Yang belum saya capai, saya mau anak-anak yang saya latih ini yang mencapainya,” ucapnya.

Mendung perlahan menghampiri. Latihan berakhir. Anak-anak bercanda, melakukan pendinginan, lalu pulang satu per satu.

Jalan kembali menjadi jalan biasa.

Namun, bagi Evert dan anak-anak El Salvador, aspal yang mereka pijak hari itu telah meninggalkan sesuatu yang lebih berarti: sebuah keyakinan bahwa mimpi tidak selalu harus dimulai dari tempat yang sempurna.

Kadang, seorang juara memang hanya membutuhkan satu jalan, sepasang sepatu, dan seseorang yang mau percaya bahwa ia bisa berlari lebih jauh. (Lyddia Bahy).

Administrator Timika Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *