MIMIKA,(timikabisnis.com) – Distribusi air bersih kepada masyarakat di Timika, Kabupaten Mimika, kini mengalami pengurangan waktu pelayanan. Kondisi ini terjadi seiring menurunnya debit sungai yang menjadi salah satu sumber utama pasokan air bersih.
Pemerintah Kabupaten Mimika bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) telah melakukan evaluasi terkait kondisi tersebut. Hasilnya, waktu distribusi air bersih yang sebelumnya berlangsung selama empat jam setiap hari kini hanya dapat dilakukan selama dua jam per hari.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi, mengatakan penurunan debit sungai berdampak langsung terhadap ketersediaan air yang akan disalurkan kepada masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap pasokan untuk kebutuhan tangki air, tetapi juga terhadap instalasi pengolahan air atau WTP 430.
“Dengan adanya penurunan debit air, pasokan terhadap tangki atau water treatment kita juga terbatas. Setelah dievaluasi, pelaksanaan penyalurannya hanya bisa dilakukan dua jam setiap hari,” ujar Inosensius, Selasa (1/9/2026).
Lanjutnya,Selain memenuhi kebutuhan masyarakat, keterbatasan sumber air juga harus dibagi untuk mendukung penanganan kekeringan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mimika.
Pasalnya, sejumlah masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena debit air sumur warga terus mengalami penurunan.
Meski waktu distribusi dikurangi,kata dia, pemerintah memastikan pelayanan air bersih tetap dilakukan setiap hari. Masyarakat pun diminta memanfaatkan waktu distribusi dengan sebaik-baiknya dengan menampung air secukupnya dan menghemat penggunaannya.
Inosensius mengimbau masyarakat tidak mengabaikan kondisi keterbatasan air yang sedang terjadi. Menurutnya, fenomena penurunan ketersediaan air tidak hanya terjadi di Timika, tetapi juga dirasakan di sejumlah wilayah lainnya akibat kondisi iklim yang dipengaruhi El Nino.
“Pelayanan tetap ada setiap hari. Karena itu, ketika dua jam tersebut berlangsung, saya berharap masyarakat bisa bijak menampung air dengan baik dan menghemat penggunaannya,” katanya.
Selain itu ia mengatakan,Di tengah keterbatasan pasokan air tersebut, sebenarnya terdapat sumber air alternatif yang telah disiapkan PTFI untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih, yakni empat sumur cadangan yang berada di kawasan WTP Kuala Kencana.
Namun, sumber air alternatif tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Saat dilakukan pengujian dan persiapan pengoperasian, sejumlah peralatan dan instrumen pendukung di lokasi sumur diketahui telah hilang.
Padahal,kawasan sumur cadangan tersebut sebelumnya telah dilengkapi dengan pagar sebagai bagian dari upaya pengamanan fasilitas,”ungkapnya.
Lagi katanya,PTFI kini perlu melakukan inventarisasi kembali terhadap seluruh fasilitas yang tersedia serta melengkapi berbagai komponen yang hilang.
Setelah seluruh perangkat pendukung terpenuhi, empat sumur cadangan tersebut diharapkan dapat segera difungsikan sebagai sumber tambahan untuk memperkuat pasokan air bersih di Timika.
“PTFI harus kembali melakukan inventarisasi dan melengkapi komponen yang hilang. Itu salah satu penyebab sehingga pasokan air dari sumber cadangan tersebut belum bisa kita optimalkan,” pungkas Inosensius.(Liddya Bahy)

