Timika (timikabisnis) – Kegiatan belajar mengajar di SD YPPK Tiga Raja, Timika, telah berjalan normal memasuki tahun ajaran 2026/2027. Namun hingga pertengahan Juli, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut masih menunggu kepastian dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala SD YPPK Tiga Raja, Bernolpus Welerubun, mengatakan pihak sekolah belum menerima informasi resmi mengenai kelanjutan program MBG untuk tahun ajaran baru. Komunikasi yang diterima sejauh ini baru sebatas menanyakan jadwal dimulainya aktivitas sekolah.
Selain menunggu arahan dari BGN, sekolah juga masih melakukan pembenahan sejumlah fasilitas pendukung yang menjadi syarat pelaksanaan program. Beberapa di antaranya adalah ruang penyimpanan makanan, sarana cuci tangan bagi siswa, serta penyediaan air bersih.
“Kami harus perbaiki dulu, baru nanti kami akan hubungi untuk kita lanjut,” ujar Bernolpus saat diwawancarai pada Rabu (15@/7/2026).
Di tengah proses tersebut, Bernolpus justru menyampaikan harapan agar pemerintah memprioritaskan pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pedalaman dan daerah terpencil.
Menurutnya, kebutuhan gizi anak-anak di kawasan tersebut lebih mendesak dibandingkan sekolah yang berada di wilayah perkotaan.
Ia menilai, sebagian besar orang tua siswa di kawasan kota masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi anak-anak mereka. Karena itu, apabila kuota MBG di SD YPPK Tiga Raja dialihkan ke daerah yang lebih membutuhkan, pihak sekolah siap menerimanya.
Bernolpus menegaskan bahwa penghentian program MBG di sekolahnya tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan belajar mengajar maupun tingkat kehadiran siswa.
Selama ini, menurutnya, keberhasilan proses pendidikan lebih banyak ditentukan oleh kerja sama yang baik antara guru, wali kelas, dan orang tua.
Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat kehadiran siswa sebelum dan sesudah adanya MBG tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.
Program tersebut dinilai lebih berpengaruh pada peningkatan kualitas asupan gizi siswa daripada pada aspek kehadiran di sekolah.
Sementara itu, Wakil Bupati Mimika yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas MBG Mimika, Emenuel Kemong, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih menyusun pemetaan pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemetaan tersebut dilakukan bersama Badan Gizi Nasional sebagai dasar penentuan lokasi sasaran, termasuk kesiapan dapur dan pengelolaan bahan pangan.
“Memang kita tidak pungkiri perhatian negara untuk anak-anak bangsa. Tapi menurut saya karakter Papua itu punya spesifikasi. Jadi lebih baik kalau memang negara sayang, kami berhenti, tidak apa-apa. Saya rasa bahwa kami bisa, bagian kami, mari kita kembalikan ke pinggiran dan pedalaman, itu jauh lebih bermanfaat,” tandas Bernolpus. (Lyddia Bahy).

